Sanggar Lare Mentes: Wadah Kreativitas Anak dengan Sentuhan Tradisi

0
54
Anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Lare Mentes sedang mengikuti Kelas Musik Dasar Gitar dan Biola. Kelas ini diperuntukkan bagi anak berusia 8-15 tahun (Foto: Instagram Sanggar Lare Mentes).

TEROPONG—Di tengah hiruk pikuk keramaian Kota Klaten, ada sebuah tempat yang terasa istimewa. Sekitar sebelas kilometer dari pusat kota, berdiri sebuah komunitas belajar bernama “Sanggar Lare Mentes.”

Di sanalah suara tawa anak-anak berpadu dengan alunan musik tradisional dan riuh permainan yang sarat makna.

Sanggar Lare Mentes merupakan komunitas pendidikan alternatif bagi anak-anak yang berlokasi di Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten.

Komunitas ini lahir sebagai respons terhadap trauma gempa bumi yang meluluhlantakkan wilayah tersebut pada 2006.

Kala itu, masyarakat ingin memulihkan semangat anak-anak yang kehilangan ruang bermain dan belajar akibat bencana.

Dari semangat itulah Sanggar Lare Mentes berdiri—menjadi ruang aman untuk bermain, belajar, dan berekspresi secara sehat.

Nama “Lare Mentes” sendiri berarti “anak-anak yang berisi atau berbuah”, sebuah simbol harapan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berdaya dan berkualitas.

Di sanggar ini, anak-anak bebas berkreasi melalui pendekatan pendidikan berbasis hak anak.

Mereka belajar dengan cara yang menyenangkan, menggunakan permainan tradisional sebagai sarana pengembangan kreativitas dan karakter.

Setiap sore, halaman sanggar berubah menjadi ruang ekspresi yang hidup. Anak-anak berkumpul, memainkan alat musik sederhana, bernyanyi, dan berlarian dengan wajah ceria.

“Kami ingin anak-anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan, bukan beban,” ujar Bege, salah satu penggerak sanggar.

“Di sini, mereka bebas berekspresi tanpa takut salah. Kami hanya mendampingi dan membuka ruang,” tambahnya.

Sanggar Lare Mentes tak hanya menjadi tempat tumbuh bagi anak-anak di Towangsan, tetapi juga menarik perhatian komunitas lain dari berbagai daerah.

Banyak yang datang untuk belajar dan meniru metode pembelajaran yang diterapkan di sini—metode yang menekankan kebebasan, rasa ingin tahu, dan nilai-nilai kebersamaan.

Berbeda dari anak-anak di perkotaan yang sering terjebak pada permainan digital, anak-anak di Lare Mentes justru akrab dengan permainan tradisional. Mereka menolak ketergantungan pada Play Station dan gawai.

“Kami ingin mereka tumbuh dengan kearifan lokal, mengenal budaya sendiri sebelum mengenal dunia luar,” ungkap Valen, penggerak lainnya.

Selain permainan, kegiatan seni juga menjadi bagian penting di sanggar ini. Salah satu kegiatan rutin adalah “Nglara Sworo”, yakni latihan musik tradisional yang melibatkan anak-anak dalam memperkaya kemampuan musikal mereka.

Dengan alat musik seperti gamelan kecil dan kentongan bambu, mereka belajar ritme, kerja sama, dan harmoni.

“Lewat musik, anak-anak belajar tentang kebersamaan dan disiplin,” tutur Bege sambil tersenyum.

Tak hanya di bidang seni, Sanggar Lare Mentes juga aktif mendorong literasi. Mereka mengadakan program “bedah buku” dan “wisata sastra.” Dua kegiatan ini memperkenalkan dunia literasi secara interaktif dan menyenangkan.

Anak-anak diajak membaca, mendongeng, dan bahkan menulis cerita mereka sendiri. Semua dilakukan dengan pendekatan bermain, tanpa tekanan akademik.

Menariknya, komunitas ini juga mengembangkan usaha mandiri bernama “Kopi Mentes.” Selain menjadi sumber pendanaan kegiatan, usaha ini menjadi media pengenalan budaya lokal.

Setiap tegukan kopi disajikan dengan cerita—tentang anak-anak, tentang desa, dan tentang semangat kebersamaan.

“Kopi Mentes adalah bagian dari cara kami bertahan. Kami ingin sanggar ini tetap hidup tanpa harus bergantung pada bantuan luar,” ungkap Valen.

Sebagai komunitas non-profit, Sanggar Lare Mentes menegaskan komitmennya untuk menjadi ruang edukasi dan tumbuh kembang anak yang ramah, inklusif, dan kreatif.

Bagi Bege dan Valen, sanggar bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga rumah kedua bagi anak-anak Towangsan.

‘Di sinilah mereka belajar tentang kehidupan—tentang menghargai, berbagi, dan bermimpi.’

“Anak-anak di sini bukan hanya belajar seni atau literasi. Mereka belajar menjadi manusia yang utuh, yang mencintai diri, sesama, dan budayanya sendiri”, pungkas Bege.