Membaca baginya menjadi kunci untuk bisa menulis dengan baik. Menjadi penulis harus dimulai dari kemauan dari diri sendiri.
Meskipun laju gerak perubahan zaman semakin cepat yang dibarengi dengan perkembangan teknologi dan informasi, membaca buku harus menjadi budaya yang terus dihidupi dalam membangun peradaban yang lebih baik.
Tri Agus Susanto Siswoharjo, akrab dipanggil TASS yang merupakan akronim dari namanya sendiri lahir di Temanggung, 13 Agustus 1963.
Dia, menurut pengakuannya sendiri, berasal dari keluarga yang ‘dibilang miskin juga tidak, juga bukan dari keluarga berada, alias biasa-biasa saja.’
TASS yang kini berprofesi sebagai Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.
Mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dalam keluarga mereka adalah cerita langka yang rasa-rasanya mustahil untuk dicapai.
Bayangkan, baik dari keluarga besar ayah maupun keluarga besar ibu mereka, belum ada satu pun yang bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Mentok-mentok sampai menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sejarah baru kemudian tercipta. Hariyanto, kakak TASS, berhasil mendobrak pintu yang selama ini seakan-akan menutup kesempatan bagi anggota keluarga mereka untuk merasakan pendidikan sampai perguruan tinggi.
Hariyanto bahkan sampai mendapatkan gelar doktor lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebuah kebanggaan bagi keluarga besar mereka tentunya.
TASS sendiri menamatkan pendidikannya masing-masing di SD Negeri VII Jampisoro, Temanggung (1975), SMP Kristen “BOPKRI”, Temanggung (1978), SMA Neegeri Manokwari, Papua Barat (1982), S-1 Jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara (PMP-KN) Universitas Negeri Jakarta, sebelumnya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta (1992), S-2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Program Magister Manajemen Komunikasi Politik Universtas Indonesia (2009).
Keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti bermimpi dan berjuang menggapainya.
Bagi TASS, jika kita serius dan mau bekerja keras ingin mencapai sesuatu, maka tidak ada yang tidak mungkin.
Penulis yang Baik adalah Pembaca yang Baik
Berbicara mengenai kepenulisan, atau bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis, tidak salah jika belajar dari TASS.
Selagi aktif sebagai mahasiswa, TASS pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah kampus, seterusnya pernah bekerja sebagai wartawan dan bekerja di beberapa media.
Banyak tulisan, baik artikel popular, jurnal, maupun buku telah dihasilkannya. Media dan Pemilu 2004 (2004), Timor Leste Merdeka, Indonesia Bebas (Solidamor, 1999), Gerr Aceh Merdeka (Garba Budaya, 2003) merupakan salah tiga dari beberapa buku yang ditulisnya.
Bagi TASS, seseorang yang ingin menjadi penulis, pertama-tama dia harus banyak membaca buku.
Menulis, apalagi menulis buku, tidak mungkin dilakukan tanpa terlebih dahulu membaca buku.
Dengan membaca buku, nalar dan logika diasah untuk semakin tajam serta mampu berpikir secara kritis, logis dan sistematis.
Perbendaharaan kata/diksi semakin bervariasi, ide, inspirasi serta referensi dalam menulis juga bisa diperoleh dengan membaca buku.
Meskipun tidak menutup kemungkinan, orang bisa menulis berdasarkan pengalaman empirik atau realitas yang dialaminya, tetapi TASS yakin ‘di zaman sekarang, semua orang harus membaca buku untuk bisa menulis.’
Menurutnya, pemicu orang untuk menulis bisa berbeda-beda. Ada yang menulis karena pengalaman empiris, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, maupun terinspirasi dari tulisan yang dibacanya.
Ia sendiri dalam menulis sering dilakukannya dengan perpaduan antara dua hal yaitu pengalaman empiris dan dengan membaca karya orang lain.
Sehingga beberapa bukunya yaitu berisi tentang pengalaman pribadi maupun pengalaman teman-temannya.
Selain itu, orang juga menulis karena hobi atau kegemaran terhadap suatu hal tertentu.
Orang yang hobi sepak bola, cenderung banyak menulis tentang sepak bola, begitu juga dengan orang yang suka isu-isu sosial, politik, budaya, lingkungan dan sebagainya.
TASS sendiri kebetulan memiliki hobi lelucon, sehingga lebih dari lima buku yang ditulis atau dieditnya bersifat humor yang kritis.
TASS mengungkapkan sebuah buku bisa ditulis berdasarkan gagasan sendiri, namun juga bisa menemukan idenya dari orang lain.
Buku-buku yang pernah ditulis TASS adalah buku berisi kumpulan tulisan maupun gagasan-gagasan yang didapatnya dari orang lain.
Meskipun idenya bisa didapatkan dari luar, tetapi TASS mengatakan bahwa dorongan yang paling kuat dalam menulis adalah yang timbul dari kemauan dalam diri seseorang.
Sesuatu yang asalnya dari luar sifatnya hanya sebatas tambahan, pelengkap serta pendukung. Tanpa kemauan yang kuat dari diri sendiri, maka untuk menghasilkan sebuah tulisan atau buku akan sulit.
Ada banyak buku yang berpengaruh terhadap TASS, salah satunya buku berjudul Revolusi karya Ir. Soekarno.
Beberapa buku sejarah dan biografi juga turut memengaruhinya seperti Biografi Soekarno, Sinde Eden serta buku filsafat tulisan Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional.
Buku biografi yang cukup berpengaruh, hingga membuat ia dan keluarganya pernah berkunjung ke museum Anne Frank di Amsterdam yaitu buku Harta Anne Frank.
Salah satu buku wawancara dengan sejarah yang ditulis oleh seorang wartawati dari Italia juga memengaruhi TASS dalam melakukan wawancara.
Dalam buku tersebut, si wartawati melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh dunia seperti Yasir Arafat, Indira Gandhi, Henry Kissinger dan lain-lain.
Baik buku biografi maupun autobiografi yang dibacanya menimbulkan kekaguman pada sang tokoh.
Salah satunya, kekaguman TASS kepada Nelson Mandela yang dipenjara selama 27 tahun akibat keberanian memperjuangkan hak masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan dan menentang politik Apartheid.
Politik Apartheid yaitu pemisahan rasial antara kulit putih dan kulit hitam di mana orang kulit putih memonopoli sumber ekonomi dan mendominasi warga kulit hitam.
Atas dedikasinya tersebut, Mandela mendapatkan nobel perdamaian pada tahun 1993. Ungkapan Nelson Mandela, ‘Memaafkan, namun tidak Melupakan’ banyak diadopsi di seluruh dunia.
TASS berharap untuk tetap membaca buku dan membeli buku walaupun saat ini dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Buku harus tetap menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia dalam menciptakan peradaban.
Ia juga berharap semua orang ‘memiliki perpustakaan sendiri dan menjadi pembaca yang baik sehingga dapat menjadi penulis yang baik pula.’






























