
TEROPONG—Dalam upaya meningkatkan kapasitas menulis anggota, TEROPONG mengadakan kegiatan “Diskusi dan Pelatihan Penulisan” yang terbagi menjadi empat sesi dan dilaksanakan dalam jangka waktu berbeda.
Sesi pertama dipandu Rini Wulandari, Sekretaris Redaksi TEROPONG dengan topik bahasan soal feature.
Kegiatan yang berlangsung di Labsoskom Studio 317 STPMD ‘APMD’ pada 13 Desember itu menghadirkan Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Bhekti Suryani selaku pemateri.
Di awal pemaparannya, ia menyebutkan jenis-jenis artikel jurnalistik. Menurutnya, berita diklasifikasi menjadi dua jenis yaitu “straight news/hard news” dan “soft news.”
Straight News: Unsur dan Sistematika Penulisan
Straight news, kata dia, adalah jenis berita yang menyajikan “peristiwa aktual, penting, dan harus segera diketahui publik” tapi tetap berbasis fakta.
Berita ini umumnya terbit di media harian. Fokus utama straight news bukan pada cerita atau emosi, melainkan pada informasi inti peristiwa.
“Straight news menempatkan kecepatan dan ketepatan sebagai prioritas. Karena itu, bahasa yang digunakan lugas, langsung, dan minim interpretasi. Wartawan tidak mengembangkan narasi panjang, tetapi memastikan fakta utama tersampaikan secepat mungkin kepada pembaca,” katanya.
Bhekti menyampaikan, straight news memuat unsur 5W + 1 H: What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), How (bagaimana).
Selain itu, ia menyampaikan, straight news ditulis menggunakan model piramida terbalik, yaitu “menyajikan berita dengan menempatkan informasi penting di bagian awal, selanjutnya diikuti dengan uraian pelengkap dan informasi tambahan.”
“Model ini bertujuan memudahkan pembaca untuk langsung memahami inti berita tanpa harus membaca keseluruhan teks,” ungkapnya.
Bhekti berkata, sistematika dalam penulisan straight news meliputi tiga bagian. Bagian pertama yaitu judul. Judul harus mencerminkan serta memberi gambaran yang sesuai dengan isi berita.
Selanjutnya ialah lead/kepala berita. Bagian ini berupa angle atau sudut pandang berita. “Di sinilah fakta paling penting dan paling menarik diletakkan.”
Lead biasanya berisi unsur what, who dan where. Karena itu, dengan hanya membaca lead, pembaca sudah dapat memahami peristiwa yang terjadi.
Bagian terakhir yaitu tubuh berita, memuat unsur why dan how untuk menjelaskan lead secara lebih detail dengan menguraikan kronologi/latar belakang peristiwa, kutipan pernyataan narasumber, data pendukung dan informasi tambahan lainnya. Setiap paragraf harus saling berkaitan.
Soft News, Salah Satunya Feature
Berbeda dengan hard news, lanjut dia, gaya penulisan soft news lebih halus/lunak. Biasanya digunakan untuk liputan mendalam (indepth reporting).
Berita jenis ini tidak terlalu terikat waktu atau ‘tidak cepat basi’, karena itu tetap relevan meski dibaca beberapa waktu kemudian.
Bagi Jurnalis Harian Jogja itu, meskipun secara umum feature digolongkan sebagai salah satu jenis berita, tetapi menurutnya “feature sebetulnya termasuk dalam kategori soft news” yang gaya penulisannya mirip cerpen dalam mendeskripsikan suasana, menyampaikan fakta, data dan informasi.
Ia berkata, feature bisa berupa kisah inspiratif, potret sosial, atau refleksi atas suatu peristiwa dan kadang menyentuh sisi kemanusiaan. Model piramida terbalik tidak berlaku pada feature.
Lebih lanjut, Bhekti pada kesempatan itu juga menekankan bahwa “tidak semua peristiwa bisa menjadi berita.”
“Kriteria utamanya terletak pada nilai berita (news value), di antaranya harus penting serta punya dampak atau pengaruh terhadap kepentingan publik,” ujarnya.
Artikel ini ditulis Margen Enembe, Reporter LPM TEROPONG
Editor: Vansianus Masir





























