Kembali Aktif, BEM Jangan Dijadikan Arena Cari Popularitas dan Rebut Jabatan

0
59
Ilustrasi berebut kekuasaan/Foto: Porostimur.com

Melalui Musyawarah Luar Biasa (MLB) pada 9 Februari 2026, akhirnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta kembali aktif setelah vakum sejak 2018.

Salah seorang mahasiswa bernama Stefanius Monarka Lampur kepada TEROPONG menyampaikan, kehadiran BEM ini tidak boleh hanya sekadar formalitas atau dimanfaatkan sebagai arena untuk mencari popularitas dan perebutan jabatan.

Sebaliknya, kata dia, itu harus digunakan sebagai wadah dalam meningkatkan budaya intelektual yang selama ini “mengalami kematian.”

Ia menyoroti agar kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi atau melaksanakan kajian harus dihidupkan lagi sebagai fondasi utama dalam membangun nalar kritis dan kesadaran mahasiswa.

“Hanya dengan itu, perubahan yang kita harapkan dapat tercapai,” kata Stefan panggilannya.

Bagi dia, keberadaan BEM sangat strategis untuk mengonsolidasikan gerakan mahasiswa dalam menyalurkan aspirasi, bukan hanya terkait persoalan internal kampus, melainkan juga isu-isu nasional maupun internasional.

Salah satu masalah yang ia singgung yakni sistem pendidikan di Indonesia yang dinilainya semakin bersifat komersial dan tidak lagi berpihak pada masyarakat, tetapi demi melayani kebutuhan industri.

Akibatnya, lanjut dia, kepekaan, solidaritas dan kepedulian peserta didik termasuk mahasiswa terhadap realitas sosial semakin tumpul karena berorientasi hanya untuk segera lulus kuliah dan mendapatkan selembar ijazah.

Lebih lanjut, Stefan berharap, program atau kegiatan yang dibuat BEM STPMD ‘APMD’  nantinya tidak hanya bagian dari sikap responsif tetapi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap situasi objektif, baik yang dihadapi mahasiswa maupun publik secara umum.

Fokus Isu Desa

Ketua BEM terpilih, Junaidin Al Rumy mengungkapkan organisasi yang dipimpinnya itu berkomitmen akan prioritaskan isu soal desa.

Dalam struktur kepengurusan, kata dia, terdapat Kementerian Desa yang ini mungkin menjadi pembeda dengan BEM lainnya di seluruh Indonesia.

Ia menambahkan, salah satu program utama yang diagendakan yaitu membentuk satu desa binaan.

“Kita akan koordinasikan lebih lanjut dengan pihak pimpinan kampus terkait ini,” katanya.

Selain itu, Al, demikian sapaan akrabnya mengklaim akan mengakomodasi kepentingan seluruh mahasiswa, bukan demi keuntungan kelompok tertentu saja atau hanya untuk yang berorganisasi lewat UKM dan HMJ.

“Karena menurut pengamatan saya, tidak semua mahasiswa itu ikut organisasi, namun bukan berarti kita tidak memperjuangkan atau mengabaikan keluhan dan keresahan mereka,” ujarnya.

“Saya berpesan supaya rekan-rekan mahasiswa dapat mendukung aktivitas yang diselenggarakan BEM selama satu tahun ke depan,” tambahnya.

Artikel ini ditulis atas kolaborasi Margen Enembe dan Rini Wulandari. Keduanya merupakan reporter LPM TEROPONG

Editor: Vansianus Masir