Terpilih Menjadi Volunteer, Riska Marga Retha: ‘Mempersiapkan Diri sebagai Sarjana yang Berguna dan Membela Rakyat’

3
121
Riska Marga Retha/Dok. pribadi

TEROPONG—“Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang adalah guru”. Kalimat ini diungkapkan Ki Hadjar Dewantara, tokoh penting pelopor pendidikan nasional.

Ungkapan tersebut meski singkat dan padat, tapi sarat makna. Di baliknya mengandung muatan filosofis tentang hakikat pendidikan yang sejati.

Pendidikan mesti mencerdaskan dan membebaskan. Membuka tabir gelap kebodohan dan ketertindasan.

Lalu mengantar setiap pribadi menjadi orang-orang yang bebas dan merdeka. Baik dalam berpikir pun dalam bertindak.

Tidak tunduk dan patuh dalam budaya konformitas, melainkan berani mengambil sikap dan punya prinsip.

Selain itu, esensi pendidikan adalah menghasilkan individu yang mengenal diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Pendidikan yang sebenarnya menjadikan pribadi yang mampu mendidik diri dengan pengalaman perjumpaan bersama nelayan di pantai, petani di kebun, pedagang di pasar, atau pengemis di jalanan yang dilupakan negara.

Pendidikan menciptakan subjek-subjek yang sadar dan selalu mau belajar serta komitmen yang kuat untuk memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Selanjutnya, pendidikan mesti membentuk manusia yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap realitas sosialnya.

Mereka yang menggunakan ilmunya untuk menganalisis masalah dan diaplikasikan dalam praktik untuk menjawab persoalan rakyat.

Bagi mereka pendidikan bukan hanya belajar di ruang kelas sekolah formal, melainkan di mana saja dan dengan siapa saja.

Menjadi volunteer sebagai jalan pengabdian

Riska Marga Retha, mahasiswa prodi Ilmu Pemerintahah STPMD ‘APMD’ Yogyakarta, memilih mengikuti kegiatan volunteer sebagai bentuk memaknai esensi pendidikan seperti kutipan Ki Hadjar Dewantara tadi.

Setelah melewati proses seleksi yang cukup ketat, ia terpilih menjadi volunteer jalur Fully Funded One Vision for Java (OVJ) – Karimunjawa Yatch #16 yang diselenggarakan Yayasan Andre Tjipta Cendekia Indonesia.

Informasi delegasi terpilih disampaikan melalui akun instagram yatch.id pada 24 April.

“Proses seleksi untuk jalur Fully Funded cukup ketat, mulai dari seleksi berkas dengan mengisi google form, kemudian lanjut ke seleksi Focus Group Discussion (FGD) dan Leaderless Group Discussion (LGD) yang sistemnya dibagi ke dalam sebelas kelompok (A-K) dan masing-masing kelompok terdiri dari kurang lebih 70 orang,” ujar Retha, sapaan akrabnya.

Ia berkata, setelah lolos seleksi FGD dan LGD, tahap berikutnya adalah wawancara. Pada bagian ini, dari masing-masing kelompok hanya tersisa 11, 12 hingga 15 orang. Hingga pada akhirnya dari semua kelompok hanya tersisa 10 orang sebagai delegasi terpilih.

Menurutnya, sudah dari tahun 2024 ia ingin terlibat dalam kegiatan volunteer, namun ‘belum mendapat restu orang tua karena tempat tujuan selalu jauh,’ kata dia.

Tahun ini, Retha ‘nekat’ daftar sebab tempat pengabdian di daerah sendiri setelah mendapat informasi di akun instagram yatch.id.

Tempat pengabdian Yatch #16 dilaksanakan di Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada 24 Juli- 02 Agustus.

Retha berkata, di Desa Nyamuk hanya terdapat Taman Kanak-kanak (TK) sampai jenjang Sekolah Dasar (SD).

Sedangkan untuk jenjang selanjutnya, harus menyeberang pulau. Paling dekat ke Pulau Karimunjawa dengan waktu tempuh 2 jam menggunakan kapal laut.

Kondisi ini menjadi penyebab banyak anak dari Desa Nyamuk tak jarang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Ini sekaligus menjadi alasan kuat bagi Retha untuk mengikuti kegiatan One Vision for Java (OVJ) – Karimunjawa Yatch #16.

⁠Retha mengungkapkan, selain belajar dan menantang diri sendiri, dengan terlibat dalam kegiatan pengabdian ke masyarakat, ia hendak mempersiapkan diri nantinya menjadi sarjana rakyat, sarjana yang berguna dan membela hak-hak rakyat.

Ia berpesan agar selalu semangat dan optimis. Khusus bagi sesama perempuan, lanjut dia, untuk jangan insecure dan overthinking sebelum mencoba.

“Intinya jangan takut mencoba hal baru dan sekali-kali berusahalah keluar dari zona nyaman,” katanya saat dihubungi TEROPONG pada 26 April.

Keberhasilan ini, kata dia, menjadi motivasi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengabdian berikutnya.