Oleh:
Sahbudin
Anggota Sekretaris Bidang Keilmuan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta
Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika kehidupan organisasi mahasiswa, baik Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di STPMD ‘APMD’ cukup mencemaskan. Ia mengalami kemunduran yang sangat serius.
Mahasiswa di kampus yang berdiri pada 17 November 1965—dua dekade setelah Indonesia merdeka—ini, kini tidak lagi bergerak berdasarkan pemenuhan basic needs (kebutuhan dasar) organisasi.
Yang terjadi justru sebaliknya: kerap terjebak dalam kepentingan ideologis dan kehendaknya sendiri akibat kuatnya budaya patronase dan doktrinasi kaderisasi yang kaku.
Situasi demikian memicu keretakan relasi dan memperlebar jarak antarelemen yang ada sehingga tidak lagi berjalan dalam semangat kolektif.
Bagi saya, inilah yang menjadi faktor penyebab mengapa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus ini selalu gagal untuk dihidupkan kembali sejak mengalami ‘mati suri’ pada 2018.
Berbagai upaya yang telah dilakukan pasca masa kevakuman itu kerap menuai jalan buntu dan mentok di tengah jalan.
Sejauh Mana Pentingnya Keberadaan BEM?
Keadaan seperti ini tentu saja sangat tidak kita harapkan untuk terus terjadi, sebab bagaimanapun keberadaan BEM sangat penting.
Dengan adanya BEM, mahasiswa yang terdiri dari berbagai macam latar belakang kelompok dapat terorganisasi dalam satu wadah bersama.
Memang dalam perjalanannya nanti pasti ada perdebatan gagasan, perbedaan pandangan—bahkan kecenderungan egosentris— yang tidak dapat dihindari.
Namun, perbedaan itu semestinya bisa dikelola secara bijaksana dan penuh kedewasaan agar tidak melupakan tujuan bersama.
Dan persis di titik inilah, kampus yang sejatinya menjadi ruang dialektika menemukan resonansinya.
Selain itu, eksistensi BEM berperan penting dalam memfasilitasi minat, bakat, serta melakukan advokasi kepentingan sosial mahasiswa.
Dengan demikian, organisasi ini tidak hanya sekadar mengelola rumah tangga mahasiswa, tetapi juga mendorong peningkatan potensi, inovasi serta daya kritis mahasiswa.
Pada akhirnya, kehadiran kembali BEM diharapkan menjadi motor perubahan yang relevan dengan cita-cita awal STPMD “APMD”: melahirkan sarjana rakyat dengan kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap realitas kehidupan sosial.
Lantas, bagaimana mungkin kita bisa melakukan misi suci yang besar itu, jika mengaktifkan kembali BEM saja kita tidak sanggup?
Kawan, sampai kapan lagi kalau bukan sekarang. Dan tidak mungkin berharap kepada yang lain kalau bukan kita —mahasiswa APMD sendiri—yang bergerak.
Saatnya mengukir sejarah dan arah baru demi APMD Jaya!
Editor: Vansianus Masir






























