Agar Organisasi Tidak Ketinggalan Zaman

0
45
Contoh budaya organisasi perusahaan dunia yang inspiratif (Sumber foto: actconsulting.co)

Oleh:

Jefri Al Barqah

Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) ‘AAN’ Yogyakarta

Tidak dapat dimungkiri, struktur berbentuk piramida sangat penting bagi keberlangsungan organisasi. Sebab tanpa itu, akan berpotensi terjadi hilangnya kontrol dan koordinasi.

Tanpa hierarki, bisa-bisa semuanya jadi kacau balau. Henry Mintzberg dalam bukunya Structure in Fives (1983), menyampaikan bahwa piramida tradisional itu seperti “tulang punggung” yang bantu koordinasi besar-besaran.

Kalau dibongkar, tim otonom bisa kerja sendiri-sendiri tanpa arah jelas, yang membuat proyek gagal.

Contohnya, di Valve (perusahaan game tanpa manajer), banyak yang mengatakan inovasi bagus tapi koordinasi antar tim sering gagal, seperti dilaporkan dalam artikel Wired (2012).

Selain itu, tanpa struktur piramida bisa menimbulkan terjadinya konflik dan inefisiensi internal. Tanpa bos yang jelas, konflik antar tim bisa meledak.

Gary Hamel, meski pendukung model datar dalam Humanocracy (2020), akui bahwa tanpa hierarki, orang bisa rebutan kekuasaan atau ambil keputusan impulsif.

Studi Gallup State of the Global Workplace (2023) menemukan bahwa di organisasi datar, tingkat konflik internal naik 15% karena kurangnya otoritas sentral.

Amy Edmondson dari Harvard Business School dalam bukunya The Fearless Organization (2018) menyampaikan, kalau tidak  ada budaya yang kuat, ini bisa mengakibatkan tim saling sabotase, bukan kolaborasi.

Adaptasi dan Inovasi

Meskpun demikian, pada era yang serba digital dan cepat, struktur organisasi tradisional yang berbentuk piramida dengan hierarki ketat dan alur komando vertikal telah menjadi penghalang utama inovasi dan adaptasi.

Salah satu masalah utama struktur piramida adalah lambatnya pengambilan keputusan, yang sering kali membuat organisasi ketinggalan zaman.

Dalam model ini, informasi harus melewati banyak lapisan sebelum mencapai puncak, sehingga respons terhadap perubahan pasar menjadi lambat.

Sebagai contoh, selama pandemi COVID-19, banyak perusahaan dengan struktur kaku gagal beradaptasi cepat.

Karena itu, alih-alih bertahan dengan struktur vertikal yang kaku semacam itu, diperlukan strategi praktis untuk membangun organisasi yang lebih tangguh dan inovatif. Organisasi harus beradaptasi dengan perubahan dan berani membongkar kemapanan.

Organisasi masa depan membutuhkan pendekatan manajemen yang lebih fleksibel, untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan teknologi dan ketidakpastian ekonomi.

Simon Sinek dalam bukunya Start With Why (2009) menekankan pentingnya desentralisasi untuk mendorong kreativitas.

“Hierarki tradisional adalah peninggalan masa lalu, organisasi masa depan harus membangun budaya kepercayaan di mana setiap orang bisa berkontribusi,” katanya.

Pertama-tama, untuk membongkar struktur organisasi dengan hierarki yang ketat, manajer harus fokus pada pengembangan keterampilan karyawan melalui pelatihan berkelanjutan dan budaya belajar.

Strategi manajemen organisasi modern mesti mengimplementasikan metode flat atau agile squads yang telah diadopsi oleh raksasa teknologi seperti Google dan Spotify, di mana tim kecil bekerja secara kolaboratif dengan literasi cepat serta diberi wewenang lebih besar untuk membuat keputusan

Menurut artikel Harvard Business Review (2018) oleh Henrik Kniberg dan Anders Ivarsson, model “squads” Spotify meningkatkan inovasi produk hingga 20% lebih cepat dibandingkan hierarki tradisional.

Jeff Sutherland dalam bukunya Scrum: The Art of Doing Twice the Work in Half the Time (2014) menyampaikan, agile bukan sekadar metodologi, itu adalah mindset yang memungkinkan organisasi belajar dari kesalahan dan berinovasi tanpa takut.

Dengan metode ini, karyawan tidak lagi ditempatkan di posisi statis, tetapi diberi ruang untuk pertumbuhan, lebih fleksibel dan mengurangi ketergantungan pada puncak piramida sehingga tidak menyebabkan burnout dan turnover tinggi.

Organisasi masa depan harus memprioritaskan transparansi dan partisipasi karyawan dalam proses pengambilan keputusan. Ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun loyalitas.

Selain itu, integrasi teknologi seperti AI dan big data juga diperlukan dalam mempercepat transisi dari struktur piramida ke model yang lebih demokratis.

Namun demikian, sebagaimana disampaikan Satya Nadella dalam wawancara dengan Harvard Business Review (2017), inovasi digitai untuk mentranformasikan perusahaan melalui pendekatan inklusif dan berbasis data haruslah melayani manusia sebagai inti manajemen. Teknologi hanyalah alat.

Dengan strategi seperti desentralisasi, agile, dan pemanfaatan teknologi, organisasi dapat menjadi lebih adaptif dan manusiawi.

“Organisasi yang bertahan adalah yang mampu berubah; yang gagal adalah yang tetap statis,” kata Peter Drucker dalam bukunya The Practice of Management (1954), bapak manajemen modern, mengingatkan kita bahwa inovasi dimulai dari dalam.

Mari kita tinggalkan model lama dan bangun struktur yang mendorong kolaborasi global.