TEROPONG—Hari Sumpah Pemuda yang setiap tahun diperingati pada 28 Oktober menjadi momen bersejarah yang terus meneguhkan semangat persatuan, keberanian, dan visi kebangsaan pemuda Indonesia sejak tahun 1928.
Ikrar “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa” bukan sekadar simbol, melainkan pernyataan politik yang berani di tengah penjajahan.
Sumpah Pemuda adalah bentuk tertinggi dari ekspresi pemikiran, perasaan, dan aspirasi bersama yang disampaikan dengan bebas dan tanpa rasa takut.
Para pemuda kala itu memahami bahwa kemerdekaan berpikir dan bersuara adalah syarat mutlak menuju kemerdekaan sejati.
Semangat itu kini lahir kembali dari Timur Nusantara. Di Kabupaten Lembata, para golongan muda merapatkan barisan untuk memeriahkan Hari Sumpah Pemuda.
Dengan tekad yang sama seperti para pemuda 1928, mereka menggelar kegiatan yang bertujuan memperkuat persatuan sekaligus membuka ruang publik yang inklusif, kritis, dan demokratis.
Seni sebagai medium
Dalam momentum kali ini, seni dipilih sebagai medium utama untuk menyalurkan ekspresi dan mempertemukan berbagai gagasan.
Seni, yang diciptakan manusia dan dinikmati oleh semua kalangan tanpa batas lokasi maupun usia, menjadi wadah persatuan, tempat emosi dan kreativitas berpadu.
Kabupaten Lembata sendiri dikenal memiliki kekayaan seni tradisional yang menjadi warisan budaya leluhur dan sarat nilai-nilai luhur, termasuk nilai persatuan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul pula geliat seni kontemporer dari berbagai individu, kelompok, dan komunitas di Lembata.
Fenomena ini memperkaya khazanah seni daerah, meski ekosistem seni yang ideal belum sepenuhnya tercipta akibat keterbatasan ruang, akses, dan fasilitas.
Berangkat dari situasi tersebut, para pemuda Lembata memanfaatkan momentum Sumpah Pemuda tahun ini dengan menyelenggarakan kegiatan “Night Street Performance – Sumpah Pemuda”, sebagai ruang seni terbuka yang menjadi embrio terbentuknya ekosistem seni lokal.
Dengan tema “Spirit Persatuan Orang Muda dalam Panggung Bebas Ekspresi,” kegiatan ini diselenggarakan di Taman Patung Anton Enga Tifaona Simpang Lima Wangatoa, Lembata.
Ketua panitia kegiatan, Josep S.M. Wahali atau yang akrab disapa Noldi menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan bentuk nyata dari semangat kolaborasi dan kebebasan berekspresi yang menjadi jiwa Sumpah Pemuda.
“Kami ingin menghadirkan ruang di mana setiap orang muda, tanpa memandang latar belakang, bisa mengekspresikan diri secara bebas, terbuka, dan setara. Lewat seni, kita membangun persatuan yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga dirasakan bersama,” ujarnya.
Bidang seni dan penampil
Kegiatan “Night Street Performance – Sumpah Pemuda” dirancang dalam bentuk pertunjukan jalanan (Street Performance) yang bersifat nonformal, menghadirkan berbagai bidang seni yang berbaur dalam satu panggung terbuka.
Di bidang seni pertunjukan, pengunjung disuguhkan penampilan energik dari sejumlah grup musik lokal seperti “Naboravi Music Entertainment”, “Blys Band”, dan “Tap Band” yang menghadirkan nuansa semangat muda melalui aransemen musik khas Lembata.
Suasana semakin hidup dengan penampilan tari dari “B’art Dance”, yang menggabungkan unsur tradisi dan modernitas dalam satu harmoni gerak yang memikat.
Sementara itu, ruang ekspresi teater juga mendapat tempat istimewa lewat monolog “Ukur Tawa” dari Komunitas Tuli Lembata (KTL) berkolaborasi dengan Koalisi KOPI KED Lembata, yang menyuarakan gagasan tentang kebebasan, keberanian, dan inklusivitas dengan cara yang menyentuh dan penuh makna.
Tak ketinggalan, performance art dari “Holand” menjadi daya tarik tersendiri dengan eksplorasi simbolik yang menantang cara pandang publik terhadap seni dan realitas sosial di sekitar mereka.
Di sisi lain, bidang seni media rekam turut memberikan warna dalam kegiatan ini.
“Langit Jingga Films” mengambil peran penting dalam mendokumentasikan keseluruhan kegiatan melalui foto, video, sementara video mapping yang menampilkan permainan visual menakjubkan dikreasi Banal Komunal, sebuah komunitas seni di Lembata.
Karya visual tersebut berpadu dengan hasil jepretan dari “Andre Kriting Photos” dan “Generasi Jagung Titi Photos”, yang menangkap momen-momen ekspresif dan spontan dari setiap penampil maupun penonton.
Sementara itu, bidang seni rupa tampil sebagai ruang refleksi visual yang memperkaya suasana malam.
Karya-karya dari “Ary Langobelen, NOS, Vicky Art, Pering Koli, Goris Batafor, Thomas Maikamang, dan Archi Taman Daun” dipamerkan dengan beragam gaya dan medium, menghadirkan pertemuan antara estetika tradisional dan kontemporer.
Setiap karya seolah menjadi narasi tersendiri tentang identitas, pengalaman, dan semangat persatuan.
Melalui Night Street Performance – Sumpah Pemuda 2025, para pemuda Lembata menegaskan kembali bahwa semangat persatuan tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi terus berdenyut dalam “denyut nadi kreativitas dan seni.”
Seni menjadi bahasa bersama yang menyatukan perbedaan dan membuka jalan bagi dialog antar generasi.
Seperti semangat Sumpah Pemuda 1928, kegiatan ini menunjukkan bahwa persatuan selalu tumbuh dari keberanian untuk berpikir bebas, berkarya, dan bersuara bersama.






























