
TEROPONG—Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila bukan untuk dihafal dan dipahami secara normatif, melainkan berimplikasi pada tindakan konkret yang dituntun nilai-nilai luhur Pancasila, termasuk di bidang budaya.
Dalam semarak Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) kembali menyelenggarakan ‘Parade dan Seni Budaya Nusantara’.
Sebuah ajang tahunan yang pada tahun ini memasuki tahun keempat. Dibalut dengan tema ‘Persatuan dalam Keberagaman’, kegiatan ini menampilkan 12 seni pertunjukan dari 38 provinsi se-Indonesia.
Salah satu yang membuat ribuan pasang mata penonton dari lautan manusia di Jalan Malioboro sepanjang Titik 0 KM hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret terpukau yaitu menggemanya Tarian Hedung Huriq yang dibawakan Komunitas Mahasiswa Kedang Yogyakarta (KUAMAKEYO), mewakili NTT untuk kedua kalinya.
Tarian Hedung Huriq menyiratkan kisah tentang konflik, perdamaian, hingga penghormatan terhadap para leluhur. Tarian ini menceritakan tentang dua kelompok yang terlibat perselisihan akibat perebutan tanah, yang kemudian didamaikan oleh para tetua adat dengan bantuan perempuan-perempuan desa sebagai simbol harmoni.
Ketua KUAMAKEYO Periode 2023-2024, Mursalin Abd Syukur mengungkapkan komitmennya terus memberikan yang terbaik untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerahnya, yang sebelumnya telah sukses melakukan Expo Budaya Edang untuk pertama kali di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada 15 Maret.
Selain itu, Mursalin menyampaikan kebanggaan karena ‘memperkenalkan budaya daerah di kota istimewa ini’. “Bahwa menjadi satu penghormatan untuk kami mahasiswa Lembata khususnya Kedang dipercayakan untuk mewakili NTT. Tentu ada rasa bangga tersendiri bagi kami, Tarian Hedung Huriq yang diiringi gong-gendang membius ribuan pasang mata pengunjung Malioboro,” ujarnya. Ia berharap dengan menampilkan tarian ini menambah wawasan tentang ragam budaya di Lembata, NTT.
Sementara itu, Hasto Wardoyo, Walikota Yogyakarta Periode 2025-2030 menyampaikan pesan penting. Ia menegaskan kembali Yogyakarta sebagai kota budaya. Semua mahasiswa dari berbagai daerah ada di Yogyakarta. Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini, kata dia, dapat meminimalisasi gesekan antarsuku dan daerah di Yogyakarta.
“Karena itu, kita akan terus mendorong kegiatan seperti ini ke depannya,” tuturnya. Hasto menambahkan, pancasila adalah dasar penyatuan bangsa Indonesia yang majemuk. Pancasila juga adalah landasan moral.
Menurutnya, spirit nilai-nilai Pancasila harus terus dirawat mulai dari ruang sekolah hingga dalam praktek kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk upaya menjaga kerukunan dan keberagaman sekaligus ikhtiar merawat serta mengenang jasa para pahlawan.
Setelah ini KUAMAKEYO akan mempersiakan diri menampilkan Tarian Hamang Hedung pada 5 Juni dalam agenda yang dilaksanakan Kesbangpol Kota Yogyakarta. Selanjutnya pada 7 Juni akan menampilkan Tarian Soka dalam acara Festival Budaya yang diselenggarakan Komunitas Mahasiswa NTT Atma Jaya Yogyakarta. Lalu pada Agustus nanti kembali mengikuti kegiatan Kemah Kebangsaan yang dilaksanakan FPK.
Laporan ini ditulis Syaiful Ahmad
Editor: Vansianus Masir





























