Antara Harapan dan Kooptasi: Nasib Generasi Muda dalam Politik Kontemporer

0
28
Ben Senang Galus/Foto: Dok. pribadi

Oleh:

Ben Senang Galus

Esais, pemerhati politik, tinggal di Yogyakarta

Kepada para pemuda
yang merindukan lahirnya kejayaan…
Kepada umat yang tengah
kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada pewaris peradaban yang kaya raya,
yang telah menggoreskan catatan membanggakan
di lembar sejarah umat manusia…
(Hasan Al-Banna, 2001)

Kredo generasi muda adalah masa depan bangsa.

Karena itu, setiap pemuda, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa di masa depan.  

Pemuda   dituntut untuk menemukan jalan keluar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat.

Pemuda tidak boleh bersikap pesimis, sehingga seakan-akan kehilangan semua kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritualnya.

Pesimis apa lagi putus asa sesungguhnya hanya akan menjauhkan kita dengan keberhasilan yang kita inginkan, demikianlah Hasan Al Banna dalam bukunya, Lesson from the Future (2001) mengatakan “tomorrow is a matter of choice…today, you hold the power in your hands. Today, more than ever, the future belongs to you! Just one question…are you ready for it?” 

Di dalam setiap periode sejarah, generasi muda selalu hadir sebagai simbol harapan.

Mereka diproyeksikan sebagai pembawa nilai-nilai baru, pengusung keberanian moral, dan penantang struktur lama yang dianggap usang.

Dalam imajinasi publik, generasi muda adalah energi yang belum terkontaminasi, suara yang belum dikompromikan, dan kesadaran yang belum dibebani oleh kepentingan.

Namun, ketika mereka benar-benar memasuki arena politik kontemporer, narasi ini kerap berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih kompleks: harapan bertemu dengan kooptasi.

Kooptasi, dalam pengertian yang paling sederhana, adalah “proses di mana kekuasaan menyerap potensi kritik untuk kemudian menjinakkannya.”

Ia tidak selalu bekerja melalui represi, tetapi justru melalui penerimaan yang selektif.  

Dengan rumusan lain, kooptasi sebagai mekanisme adaptasi sosial.

Ia menekankan bahwa organisasi formal atau gerakan sosial yang mapan menggunakan kooptasi untuk menjaga stabilitas internal dan eksternal, sebentuk  kompromi strategis.

Generasi muda diberi ruang, tetapi ruang itu tidak sepenuhnya bebas.

Mereka diakomodasi, tetapi dalam batas-batas yang tidak mengganggu stabilitas struktur yang ada.

Dalam konteks ini, kooptasi bukanlah penolakan terhadap perubahan, melainkan strategi untuk mengendalikan arah perubahan itu sendiri.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah mungkin bagi generasi muda untuk tetap menjadi subjek yang otonom dalam struktur kekuasaan yang cenderung menyerap dan menyesuaikan setiap bentuk perbedaan?

Ataukah setiap upaya untuk masuk ke dalam sistem pada akhirnya akan berujung pada internalisasi nilai-nilai yang ingin dikritik?

Kekuasaan Tidak Pernah Mutlak

Dalam tradisi pemikiran politik, dilema ini bukanlah hal baru.

Kekuasaan selalu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan dirinya, baik melalui dominasi terbuka maupun melalui mekanisme yang lebih halus.

Michel Foucault, dalam bukunya Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977 (New York: Pantheon Books, 1980, p. 89), mengatakan: power is not simply something possessed, but something that operates through relationships—infiltrating everyday practices, language, and even ways of thinking. Within this framework, co-optation occurs not only at the institutional level, but also at the level of consciousness.

Artinya “kekuasaan tidak hanya sebagai sesuatu yang dimiliki, tetapi sebagai sesuatu yang beroperasi melalui relasi—menyusup ke dalam praktik sehari-hari, bahasa, dan bahkan cara berpikir. Dalam kerangka ini, kooptasi tidak hanya terjadi pada level institusi, tetapi juga pada level kesadaran.”

Bagi Foucault, kekuasaan tidak hanya berada di pemerintahan atau institusi formal.

Ia menembus berbagai institusi sosial, seperti rumah sakit, sekolah, media, dan bahkan praktik sehari-hari.

Kekuasaan hadir dalam cara orang berbicara, mengatur diri, dan menilai satu sama lain.

Ia menghubungkan kekuasaan dengan pengetahuan: pengetahuan tidak netral, tetapi selalu terkait dengan kekuasaan.

Pengetahuan membentuk apa yang dianggap benar, normal, atau wajar, sehingga secara tidak langsung mengatur perilaku individu.

Berbeda dengan pandangan klasik yang menekankan kekuasaan sebagai kontrol atau penindasan, Foucault melihat kekuasaan juga menciptakan perilaku, identitas, dan praktik sosial.

Ia tidak hanya membatasi, tetapi juga membentuk kemungkinan dan norma baru. Kekuasaan selalu berada dalam hubungan timbal balik. Di setiap struktur kekuasaan, ada potensi resistensi.

Tidak ada kekuasaan yang absolut (mutlak),  karena ia selalu dihadapkan pada strategi, negosiasi, dan perlawanan.

Contohnya, gerakan sosial atau protes dapat muncul sebagai bentuk resistensi terhadap norma dan struktur yang mendominasi.

Bagi generasi muda, ini berarti bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat eksternal, tetapi juga internal.

Ketika seseorang memasuki struktur politik, ia tidak hanya berhadapan dengan aturan formal, tetapi juga dengan norma, ekspektasi, dan budaya yang secara perlahan membentuk cara pandangnya.

Apa yang awalnya dianggap sebagai kompromi sementara dapat berubah menjadi kebiasaan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari identitas.

Kooptasi Simbolik

Namun, melihat kooptasi sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif juga berisiko menyederhanakan persoalan.

Dalam praktik politik, kompromi sering kali tidak dapat dihindari. Tanpa kompromi, proses pengambilan keputusan dapat menjadi buntu.

Dalam konteks ini, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah “apakah generasi muda harus berkompromi atau tidak”, tetapi “sejauh mana kompromi tersebut masih dapat dibenarkan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar.”

Di sinilah dimensi etis menjadi penting. Politik tidak hanya soal strategi, tetapi juga soal nilai.

Generasi muda yang terlibat dalam politik kontemporer dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu ideal.

Mereka harus menimbang antara efektivitas dan integritas, antara hasil jangka pendek dan tujuan jangka panjang.

Dalam banyak kasus, tidak ada jawaban yang benar secara mutlak—yang ada hanyalah keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam gaya reflektif yang kerap hadir dalam berbagai diskusi di media, penting untuk melihat persoalan ini sebagai proses dialektis.

“Harapan dan kooptasi bukanlah dua kutub yang sepenuhnya terpisah, melainkan dua dinamika yang saling berinteraksi. Harapan mendorong perubahan, sementara kooptasi berusaha mengendalikannya.”

Di antara keduanya, generasi muda bergerak—kadang maju, kadang mundur, tetapi selalu berada dalam negosiasi yang terus-menerus.

Media sosial menambah lapisan baru dalam dinamika ini.

Di satu sisi, ia memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri dan membangun narasi alternatif.

Sementara di sisi lain, ia juga menjadi arena di mana kooptasi dapat terjadi dengan cara yang lebih subtil.

Popularitas dapat menjadi alat kontrol, dan visibilitas dapat menjadi insentif untuk menyesuaikan diri dengan arus dominan.

Dalam konteks ini, muncul apa yang dapat disebut sebagai “kooptasi simbolik.”

Generasi muda tidak selalu diharuskan mengubah posisi mereka secara eksplisit, tetapi cukup dengan menggeser penekanan, mengurangi intensitas kritik, atau memilih isu-isu yang lebih aman.

Perubahan ini mungkin tampak kecil, tetapi dalam jangka panjang dapat mengubah arah gerakan secara signifikan.

Lebih jauh lagi, struktur politik kontemporer juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang tidak dapat diabaikan.

Biaya politik yang tinggi, ketergantungan pada sponsor, dan kebutuhan akan sumber daya membuat banyak aktor muda harus berhadapan dengan realitas yang keras.

Dalam situasi seperti ini, kooptasi sering kali bukan pilihan ideologis, melainkan konsekuensi dari keterbatasan material.

Tetap Menjaga Resistensi

Namun, di tengah berbagai tekanan tersebut, tetap ada ruang untuk resistensi.

Resistensi tidak selalu berarti penolakan total terhadap sistem, tetapi dapat berupa upaya untuk mempertahankan otonomi dalam batas-batas yang ada.

Ini bisa dilakukan melalui berbagai cara: “membangun jaringan independen, memperkuat basis pengetahuan, atau menciptakan ruang-ruang alternatif di luar struktur formal.”

Pendidikan, dalam hal ini, memainkan peran yang krusial.

Bukan hanya sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kesadaran kritis.

Generasi muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana kekuasaan bekerja akan lebih mampu mengenali dan menghadapi proses kooptasi.

Mereka tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga pengamat yang reflektif terhadap posisi mereka sendiri.

Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak generasi muda.

Struktur elit yang ada juga perlu melakukan refleksi.

Kooptasi yang berlebihan dapat menciptakan stabilitas semu, tetapi dalam jangka panjang berisiko menggerus legitimasi.

Tanpa adanya ruang bagi kritik yang otentik, sistem dapat kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri.

Dalam perspektif filosofis, persoalan ini juga berkaitan dengan konsep kebebasan.

Apakah kebebasan berarti berada di luar struktur, atau justru kemampuan untuk bertindak secara otonom di dalamnya? Tidak ada jawaban yang sederhana.

Namun, mungkin kebebasan yang paling realistis adalah kebebasan yang disadari—kesadaran akan batasan, tetapi juga kemampuan untuk bertindak di dalam batasan tersebut.

Pada akhirnya, nasib generasi muda dalam politik kontemporer tidak dapat ditentukan oleh satu faktor tunggal.

Ia merupakan hasil dari interaksi antara struktur dan agensi, antara kondisi objektif dan pilihan subjektif.

Harapan tidak boleh hilang, tetapi juga tidak boleh naif.

Kooptasi perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti secara berlebihan.

Yang menjadi kunci adalah menjaga kesadaran kritis—kemampuan untuk terus bertanya, bahkan ketika berada di dalam sistem.

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu menghasilkan jawaban yang memuaskan, tetapi justru di situlah letak pentingnya: sebagai pengingat bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang makna.

Di tengah tarik-menarik antara harapan dan kooptasi, generasi muda berada dalam posisi yang tidak mudah, tetapi juga tidak tanpa kemungkinan.

“Mereka dapat menjadi bagian dari sistem, tetapi tidak harus sepenuhnya larut di dalamnya. Mereka dapat berkompromi, tetapi tetap menjaga batas. Mereka dapat beradaptasi, tetapi tidak kehilangan arah.”

Pada akhirnya, yang menentukan bukanlah apakah mereka berhasil menghindari kooptasi sepenuhnya—karena itu mungkin utopis—melainkan sejauh mana mereka mampu mempertahankan inti dari apa yang mereka perjuangkan.

Dalam dunia politik yang penuh dengan negosiasi dan kompromi, menjaga inti tersebut adalah bentuk resistensi yang paling mendasar.