Oleh:
Batara Budiono Siburian
Ketua Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK-GMNI) Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta Periode 2019-2020
Cinta sering kali kita bayangkan dan tafsirkan secara sempit sebatas sebagai perasaan atau emosi pribadi yang intim dan personal: kehangatan keluarga, romansa sepasang kekasih, atau ikatan persahabatan.
Tetapi melalui tulisan ini, saya ingin mengajak agar kita perlu perluas pemahaman tentang cinta.
Bahwa cinta bukan hanya melodi lembut yang dinyanyikan kepada kekasih, atau hanya sebagai romansa manis dan sendu mendayu, tetapi juga sorak-sorai perlawanan terhadap penindasan.
Ia adalah sentuhan lembut yang mengeringkan air mata orang tertindas, sekaligus kepalan tangan yang mengecam ketidakadilan.
Di mana Kita Menemukan Cinta seperti Ini?
Kita menyaksikan manifestasi cinta semacam ini pada mereka yang berdiri di garis depan perubahan: para pejuang hak asasi, demonstran, aktivis, reformis, dan revolusioner.
Mereka bukanlah sosok tanpa perasaan. Justru sebaliknya, mereka memiliki hati yang paling sensitif terhadap penderitaan, serta telinga yang paling peka terhadap jeritan ketidakadilan.
Mereka mencintai—tetapi cinta yang mereka genggam bukan hanya untuk lingkaran kecil mereka; cinta itu membesar, meluas, dan meliputi seluruh umat manusia.
Bayangkan seorang aktivis yang meninggalkan kenyamanan rumah, merelakan waktu bersama keluarga, bahkan mempertaruhkan kebebasan demi suara-suara yang tak terdengar.
Bayangkan seorang demonstran yang berdiri kokoh di tengah barikade, menahan rasa takut demi masa depan yang lebih adil bagi generasi mendatang.
Mereka mungkin memiliki cinta dalam bentuk hubungan personal, tetapi mereka memilih mengembangkan cinta itu menjadi sesuatu yang lebih besar, sebagai sebuah kekuatan pendorong yang melampaui batas individu dan menjelma menjadi perjuangan kolektif demi martabat serta keadilan; demi kemanusiaan.
Mereka mempersembahkan hidup, energi, bahkan keselamatan mereka untuk cinta yang revolusioner—cinta akan keadilan, cinta akan kesetaraan, cinta akan martabat setiap jiwa manusia.
Para pejuang ini adalah bukti hidup bahwa cinta adalah tindakan, bukan sekadar kata.
Bahwa cinta sejati adalah panggilan untuk peduli, untuk bertindak, dan untuk membangun dunia di mana setiap individu dapat hidup dengan hak-haknya terpenuhi dan martabatnya terjaga.
Inilah puncak kemanusiaan di atas dasar cinta yang tak pernah lelah.
Ketika cinta tak lagi tersekat dalam tembok-tembok privasi, melainkan meluap menjadi aksi nyata untuk kemaslahatan bersama. Dan saat itulah kita menyaksikan keajaiban.
Di Indonesia, kita menemukan manifestasi cinta universal ini dalam Marhaenisme, sebuah ideologi yang lahir dari kepedulian mendalam terhadap nasib Marhaen—rakyat kecil (petani gurem, buruh miskin, dan nelayan kecil, dll) yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan, meskipun bekerja keras.
Dengan kata lain, Marhaenisme dapat dimaknai sebagai wujud cinta untuk rakyat kecil. Bung Karno, sang proklamator, merumuskan Marhaenisme bukan sekadar teori ekonomi atau politik, melainkan perwujudan cinta yang konkret terhadap kaum terpinggirkan.
Seperti para pejuang hak asasi yang tak kenal lelah, Marhaenisme adalah panggilan untuk mengakhiri eksploitasi dan membangun masyarakat yang adil serta makmur bagi semua, bukan hanya segelintir elite.
Ini adalah cinta yang tidak egois—cinta yang melampaui kepentingan pribadi demi kesejahteraan bersama, mencerminkan perjuangan revolusioner yang didasari empati dan solidaritas.
Lepas dari Ambisi Kepemilikan Pribadi
Namun, kita tidak naif. Kita tahu ada fakta pahit dan bayangan yang mengintai di balik idealisme ini.
Masih banyak aktivis dan pejuang palsu yang mengambil keuntungan material, menggunakan kelompoknya sebagai ladang uang, dan berjuang demi ego serta ambisi pribadi.
Mereka mungkin tampil di depan kamera, menyuarakan slogan-slogan, tetapi motivasi mereka jauh dari kemurnian.
Tak jarang perjuangan tulus ini dianggap bodoh dan sia-sia. “Buat apa lelah-lelah berjuang?” mungkin kita dengar. “Penindasan tetaplah penindasan sampai surga jatuh ke bumi.”
Seolah Wiji Thukul yang gigih menyuarakan puisi perlawanan atau Marsinah yang berani menuntut hak buruh hingga nyawanya terenggut hanyalah orang-orang yang dituding mengejar utopia, mengorbankan waktu berharga tanpa memikirkan cinta untuk diri sendiri, apalagi untuk kekasih hati.
Kita tidak sama dengan mereka—bahkan harus melawan bayangan palsu itu karena mereka merusak dan melecehkan integritas perjuangan sejati.
Perjuangan sejati yang didasari cinta universal tak akan pernah bisa disamakan dengan aksi-aksi yang dimotivasi kepentingan pribadi atau ambisi sesaat.
Seperti kata Bung Karno, “Apa yang tidak murni, apa yang tidak tulus, apa yang tidak ikhlas, ia akan terbakar habis oleh api perjuangan.”
Yang abadi hanyalah mereka yang berjuang dengan hati, dengan integritas, demi kemanusiaan yang lebih baik—tanpa pamrih atau kepentingan tersembunyi. Cinta sejati justru mampu melepaskan diri dari belenggu kepemilikan pribadi, meluas hingga memeluk nasib sesama.
Untukmu, para pejuang cinta—jangan pernah lelah. Tetaplah berjuang, bahkan dalam hal-hal kecil setiap hari, tanpa kenal putus asa. Teruslah nyalakan api perjuanganmu, sebab dalam setiap langkahmu, kemanusiaan menemukan harapan.






























