
TEROPONG—Beberapa waktu lalu, dalam menyambut Dies Natalis ke-59 Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta, yang berpuncak pada 18 November, Lembaga Pers Mahasiswa TEROPONG menyelenggarakan kegiatan Perlombaan Penulisan Esai bertema ‘Refleksi 59 Tahun APMD’. Perlombaan ini hanya dibuka bagi mahasiswa aktif STPMD ‘APMD’.
Perlombaan dibuka pada 4-17 November. Namun, hingga 13 November, ‘tidak ada satu pun tulisan yang masuk’. Redaksi kemudian memutuskan untuk kembali membuka perlombaan pada 14-26 November. Hingga deadline, redaksi hanya menerima empat tulisan. Masing-masing dari Prudensius T. Datal (Teguh), Ishak Melbert S.S. Waimbo (Ishak), Timotius D. Ngara (Timo) dan Krisvian Putradarma (Vian).
Rifal Umbu Djawa Takajaji, Pemimpin Umum TEROPONG mengungkapkan, kegiatan perlombaan penulisan esai ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk mengajak teman-teman mahasiswa memberikan pemaknaan atas ulang tahun kampus.
Pemaknaan itu, kata dia, harus dimulai dari refleksi diri untuk menyelami realitas empiris yang sudah dilalui selama berkuliah. Kita bukan saja belajar dari pengalaman, tetapi dengan refleksi, kita juga belajar dari memaknai pengalaman, kata Rifal.
Sementara itu, Vansianus Masir, Pemimpin Redaksi TEROPONG mengatakan, kegiatan ini hendak mengajak mahasiswa membiasakan diri untuk membaca, menulis dan berdiskusi. “Membaca, menulis dan berdiskusi semestinya harus melekat kuat dalam diri mahasiswa,” kata Ancik, sapaan akrabnya.
Menanggapi minimnya partisipasi mahasiswa yang ikut perlombaan tersebut, ‘ini menjadi evaluasi sekaligus kultur akademik kampus perlu dipertanyakan’, kata dia.
Menurutnya, melalui kegiatan perlombaan esai ini, TEROPONG bertujuan untuk mewadahi seluruh mahasiswa dalam menyampaikan gagasan dan pandangannya terhadap dinamika kampus selama ini berdasarkan perspektif masing-masing.
“Dengan menulis, ide, gagasan serta pandangan kita terhadap suatu realitas tidak menghilang begitu saja dan ‘menguap di udara’ tanpa jejak. Keresahan, ketidakpuasan dan kritikan yang disampaikan teman-teman dalam tulisan hendaknya dapat memberikan pencerahan dan perubahan terhadap kebijakan kampus, sehingga dapat mendorong kehidupan kampus yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang,” kata dia.
Selanjutnya, pada Jumat, (29/11) TEROPONG mengadakan diskusi publik bertajuk ‘Sesudah Ulang Tahun, Lalu Apa?’ dengan menghadirkan para penulis sebagai pembicara untuk melakukan story telling atas tulisannya lalu dikonfrontasikan dalam ruang diskursus. Kegiatan yang dimoderatori salah satu anggota TEROPONG, Ramadhanty Papuani tersebut berlangsung di aula kampus dan dihadiri oleh puluhan mahasiswa.
Teguh, dalam tulisannya yang berjudul ‘Wahana Perubahan’, menyoroti status mahasiswa yang digadang-gadang sebagai ‘Agen Perubahan’. Mahasiswa sebagai ‘Agent of Change’, kata dia, bisa berarti dua hal, yakni perubahan dari yang buruk menuju yang baik, atau sebaliknya berubah dari yang baik menjadi buruk.
“Tergantung kita, ingin memilih perubahan yang seperti apa, karena diri sendiri yang paling tahu perubahan masing-masing,” kata Teguh.
Menurut dia, mahasiswa diutus keluarga, orang tua dengan harapan dapat membawa perubahan yang positif ketika nanti kembali ke masyarakat. Perubahan, kata dia, harus dimulai dari diri kita sendiri, dengan melakukan hal-hal yang produktif, salah satunya yaitu terlibat dalam organisasi, baik organisasi internal maupun organisasi eksternal atau ruang-ruang lainnya.
Lebih lanjut, khususnya bagi Prodi Ilmu Pemerintahan yang memiliki ‘Mazhab Timoho (5G)’, Teguh mengatakan supaya konsep tersebut bukan hanya menjadi pertunjukan satu orang penggagas, melainkan baik dosen maupun mahasiswa harus mampu menggunakan 5G untuk mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi dengan menggunakan metodologi IP yang telah dipelajari di kelas.
“Mazhab Timoho bukanlah konsep yang sudah final, melainkan harus terus menerus kita kembangkan secara bersama-sama. Selain itu, kita juga butuh penalaran dari praktisi dan lain-lain sehingga pandangan kita lebih komprehensif,” ungkapnya.
Teguh mengatakan, sebagai mahasiswa yang belajar di sekolah tinggi yang fokus menaruh perhatian pada desa, ‘kita harus mampu menjadi pelopor dan penggerak perubahan desa dan menjadikan desa bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek’.
“Pembangunan Indonesia harus datang dan dimulai dari desa. Jika maju dan terang di desa, maka Indonesia juga begitu,” tutupnya.
Sementara itu, Vian melalui tulisannya ‘Branding Kampus Kuno, Kuantitas Mahasiswa Baru Menurun’, menyampaikan kekecewaannya sekaligus kritik terhadap kehidupan kampus yang dinilainya memiliki kejanggalan.
“Pertama kali sampai di APMD, saya melihat kampusnya besar, bersih dan rapi sebagaimana kampus yang lain. Namun setelah menjalani pendidikan selama satu tahun di sini, saya menemukan beberapa kejanggalan,” kata dia.
Dalam tulisannya, kejanggalan yang dimaksud Vian yaitu kuantitas mahasiswa baru yang semakin tahun semakin mengalami penurunan. Menurut Vian, penurunan kuantitas sangat berpengaruh terhadap kualitas.
“Apabila kuantitas mahasiswa meningkat, kualitas mahasiswa juga pasti ikut meningkat. Begitu pula sebaliknya,” katanya.
Baginya, penurunan kuantitas mahasiswa disebabkan karena ‘branding media sosial kampus yang kuno’. Media sosial kampus, kata dia, menempatkan mahasiswa sebagai objek bukan sebagai subjek karena yang diposting lebih banyak kegiatan-kegiatan dosen, bukan kegiatan mahasiswa.
Ishak, penulis lainnya mengatakan, perjalanan selama 59 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tentu, kata dia, banyak tantangan dan hambatan yang dilalui. Namun, tidak dapat dimungkiri, kampus juga sudah mengalami banyak perubahan dan dampak positif.
Meski begitu, dalam tulisannya yang berjudul ‘Menggali Gagasan untuk Kemajuan Pendidikan dan Pelayanan Akademik’, Ishak menyampaikan supaya kampus lebih serius dalam melakukan pemberdayaan masyarakat dan harus melibatkan mahasiswa.
Karena itu, kampus harus banyak menjalin relasi dengan institusi lain seperti LSM, Pemerintah Kota Yogyakarta dan sebagainya, supaya mahasiswa tidak hanya belajar dalam kelas semata, ungkap Ishak.
“Kuliah tidak hanya paham teori, tetapi harus dipraktikan dalam perjumpaan langsung dengan masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu, Ishak menyampaikan, kampus jangan hanya fokus pada urusan-urusan administratif, tetapi harus berorientasi dalam menciptakan ruang-ruang yang aman dan nyaman, sehingga memungkinkan mahasiswa dapat mengekspresikan pendapatnya secara kritis.
Sedangkan Timo dalam esai berjudul ‘Mahasiswa Harus Radikal Secara Pengetahuan’, mengatakan bahwa mahasiswa memerlukan pengetahuan yang radikal dan mendalam sehingga tidak salah kaprah dalam menganalisis dan memahami suatu persoalan.
Sebagai ‘maha’ dari siswa, kata dia, mahasiswa haruslah memiliki pengetahuan yang tidak hanya menyentuh permukaan persoalan dan bertujuan untuk mencari sensasi semata.
“Dengan memiliki pengetahuan yang radikal, mahasiswa dapat menjelaskan asal-muasal suatu pengetahuan itu hadir,” ungkap Timo.
Ria Anisa, Pembina TEROPONG yang menjadi juri dalam kegiatan perlombaan ini memberikan apresiasi kepada para penulis. Menurutnya, masing-masing penulis memiliki kelebihan dalam tulisannya.
“Ada tulisan yang cukup komprehensif, tulisan lainnya disajikan secara sederhana tapi sangat kontekstual. Ada juga tulisan yang tidak sesuai dengan tema, tetapi memiliki full of spirit, membara bahkan melucuti kebuntuan mahasiswa,” kata dia.
Selain itu, Ria juga menyampaikan beberapa catatan kritis terhadap empat tulisan yang diikutsertakan dalam perlombaan ini.
“Tulisan teman-teman masih malu-malu. Lantang dong biar pro, bongkar jangan tanggung-tanggung, lalu pasang dengan idealismemu. Tulisan kalian juga masih suka lompat-lompat, tidak terstruktur dan koheren, serta bertele-tele dan berbelit-belit. Padahal tulisan itu sebenarnya sederhana saja dan langsung to the point,” ungkapnya.
Menurut penilaiannya, ia memutuskan Vian (Juara I), Teguh (Juara II), Ishak (Juara III) dan Timo (Juara IV).
Berdasarkan ketentuan pihak penyelenggara, keputusan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu-gugat. Selanjutnya, empat tulisan tersebut akan diedit oleh redaksi dan dimuat dalam website TEROPONG.
Repoter : Adelia Fransina Lerebulan
Editor : Vansianus Masir





























