Oleh:
Philipus Pati Niron
Mahasiswa Program Studi Pembangunan Sosial Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta
Desa Larangan, sebuah desa kecil di suatu lembah yang tersembunyi di kaki bukit. Lembah tersebut dikelilingi oleh hutan lebat dan gemericik air yang tak henti-hentinya mengalir dari mata air suci. Tempat itu adalah warisan leluhur yang dihormati oleh generasi demi generasi.
Di lembah ini, pohon-pohon tua berdiri kokoh, menjulang tinggi seakan melindungi rahasia-rahasia kuno yang tak boleh disentuh sembarang tangan. Mereka menyebutnya sebagai “Lembah Serak,” karena di sinilah semua hukum adat dan tradisi berakar, tak tergoyahkan oleh angin perubahan yang bertiup dari luar.
Namun, kisah ini tidak hanya tentang tanah yang tenang dan suci. Ini tentang janji yang dilanggar dan air yang menjadi keruh.
Suatu hari, jauh di tahun yang terlupakan oleh kebanyakan orang, bencana melanda sebuah pulau di seberang lautan. Tanah retak, rumah-rumah roboh, dan langit yang biasanya biru berubah menjadi abu kelabu.
Orang-orang dari pulau itu kehilangan tempat tinggal mereka, dan pemerintah berusaha mencari tempat baru untuk mereka. Mata mereka tertuju pada Lembah Serak, lembah yang dianggap sebagai tanah berkat, penuh dengan kesuburan dan ketenangan.
Tokoh adat Desa Larangan saat itu, seorang lelaki tua bijak bernama Tua Batu, dikenal karena hatinya yang luas seperti lautan. Meskipun lembah itu adalah warisan leluhurnya, ia membuka pintu dengan harapan yang tulus. “Tanah ini bisa kau tempati,” ucapnya lembut kepada para pejabat yang datang meminta. “Namun, tanah ini bukan sekadar tanah. Ini hidup kami. Pohon-pohon, sungai, dan batu-batu di sini memiliki roh. Adat kami adalah darah yang mengalir di dalamnya.”
Di hadapan para pejabat dan saksi, Tua Batu menyerahkan sebagian tanah, seraya berkata, “Tanah ini kami berikan untuk kehidupan baru. Ingatlah selalu, tanah ini hidup.” Dengan syarat mereka berjanji akan menghormati tradisi, melibatkan para tetua adat Desa Larangan dalam setiap pembangunan, dan menjaga mata air suci dari kerusakan.
Namun, seperti riak yang merayap di air jernih, janji itu lambat laun memudar. Para pengungsi yang dijanjikan tak pernah tiba, dan tanah yang telah diolah oleh tangan-tangan warga Desa Larangan justru ditempati oleh orang-orang dari luar desa, yang tak mengenal adat istiadat. Dalam hitungan tahun, desa baru terbentuk di pinggir lembah, mereka menamai tempat itu Desa Tirta Kaca, yang kini berkembang menjadi desa mandiri dengan segala kemegahannya.
Kehidupan bergulir di kedua desa yang kini terpisah oleh batas tak kasat mata—Desa Larangan yang menjaga tradisi leluhur dan Desa Tirta Kaca yang haus akan kemajuan. Namun, suatu hari, air sungai yang mengalir dari mata air suci di lembah mulai terasa berbeda. Warnanya keruh, dan alirannya tak lagi jernih seperti dahulu. Para tetua adat di Desa Larangan menyadari sesuatu yang ganjil.
“Ada yang tidak beres,” kata Ratu Langit, ketua adat yang menggantikan Tua Batu setelah kepergiannya ke alam baka. Matanya yang tajam menatap ke arah Desa Tirta Kaca dari kejauhan, seperti bisa melihat lebih dari sekadar bukit dan lembah yang memisahkan mereka. “Seseorang telah menyentuh tanah ini tanpa restu leluhur.”
Kabar itu ternyata benar. Pemerintah Desa Tirta Kaca telah mulai menggali sumur dan membangun proyek air bersih di wilayah yang mereka klaim sebagai milik mereka. Pohon-pohon ditebang tanpa ampun, situs-situs yang dianggap keramat dihancurkan, dan air yang seharusnya membawa kehidupan kini membawa kebencian.
“Tidak ada izin dari kami!” Ratu Langit menegaskan dalam pertemuan adat di bawah pohon besar, tempat mereka biasa bermusyawarah. “Mereka merusak apa yang telah dijaga oleh leluhur kami selama berabad-abad.”
Upaya untuk berdialog dengan Desa Tirta Kaca berulang kali dilakukan oleh para pemimpin Desa Larangan. Mereka mengirim surat-surat, mengundang para pemimpin desa untuk duduk bersama dan membicarakan hal ini secara damai. Namun, surat-surat itu hanya berakhir dalam keheningan. Desa Tirta Kaca terus melanjutkan proyek mereka seolah-olah roh tanah itu tak pernah ada.
Semakin hari, kemarahan di Desa Larangan tumbuh seperti api yang menjilat-jilat di dada setiap warganya. Di mata mereka, penghancuran itu lebih dari sekadar pembangunan. Itu adalah pengkhianatan terhadap janji yang pernah diucapkan Tua Batu di depan para saksi. Tanah yang diberikan untuk kebaikan telah dijarah, dan adat yang mereka hormati telah diinjak-injak.
Mata air yang dulu suci, kini tercemar bukan hanya oleh tanah dan batu, tetapi juga oleh dosa manusia. “Air ini tak akan pernah jernih lagi,” bisik salah seorang tetua dengan nada getir, ketika mereka menyaksikan dari jauh pohon-pohon tumbang satu per satu di hutan keramat mereka.
Suatu pagi, warga Desa Larangan melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka menyusuri hutan menuju Desa Tirta Kaca, menyapu bersih para pekerja yang merusak tanah mereka, memaksa kepala desa dan para pemimpinnya untuk berhenti atau menghadapi murka adat. Itu bukan sekadar aksi balasan, melainkan sebuah peringatan, bahwa sabar mereka ada batasnya. Bahwa tanah ini bukan hanya sekedar tanah biasa, melainkan tanah hidup yang mereka jaga dengan jiwa mereka sendiri.
Namun, seperti yang terjadi selama berbulan-bulan, suara mereka terus diabaikan. Pemerintah Desa Tirta Kaca tetap melanjutkan pembangunan, seolah-olah suara dari lembah itu hanya angin lalu. Mereka mencitrakan diri sebagai korban, menyebarkan kabar bahwa Desa Larangan iri terhadap kemajuan yang mereka bawa, bahwa adat hanyalah hambatan bagi masa depan yang lebih cerah.
Konflik terus membara, dan air mata yang jatuh di tanah Desa Larangan tak bisa memadamkan api kemarahan. Gereja yang seharusnya menjadi penengah, justru terdiam, bahkan di beberapa momen tampak mendukung proyek yang mengabaikan nilai-nilai adat. Dalam khotbah, para pemuka agama berbicara tentang keadilan dan ekologis, namun menutup mata terhadap kehancuran yang terjadi di depan mereka.
Di tengah kegelapan ini, Ratu Langit dan para tetua adat tetap mencoba menemukan jalan damai. Mereka tidak ingin perang, tetapi jika adat dan hak ulayat terus diinjak-injak, mereka siap mempertahankan tanah ini dengan darah, jika perlu.
“Tanah ini bukan sekadar tanah,” kata Ratu Langit dalam doa kepada leluhur pada suatu malam. “Ini adalah jantung kami, hidup kami. Jika mereka merusaknya, mereka akan menghancurkan kami.”
Lembah Serak kini berdiri di ambang kehancuran. Mata air yang dulunya jernih, lambat laun kehilangan kejernihannya, seperti cermin yang pecah, memantulkan bayangan-bayangan kelam yang merongrong dari dalam. Pertarungan antara adat dan modernitas, antara janji yang dikhianati dan keserakahan yang tak berujung, terus berlanjut.
Namun, di antara semua itu, ada satu harapan yang terus menyala di hati Ratu Langit dan orang-orangnya: bahwa suatu hari, air mata yang telah mereka tumpahkan akan menyucikan kembali mata air keruh di lembah mereka, dan janji-janji lama akan ditepati, meski dunia telah melupakan kebaikan hati yang dulu pernah ditaburkan di tanah itu.
Di tengah kegelisahan yang menyelimuti Desa Larangan, malam menjadi lebih pekat dan sepi, hanya angin yang berdesir di antara dahan-dahan tua di tepi lembah. Ratu Langit duduk di depan rumah adat, ditemani nyala lilin yang hampir padam. Pikirannya terbang jauh, mengitari masa lalu dan masa depan yang samar-samar terlihat seperti bayangan.
Di depannya, anak-anak muda Desa Larangan mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan kepercayaan pada adat dan kesakralan tanah mereka. Bagi mereka, Desa Tirta Kaca terlihat bagaikan bintang yang bersinar di tengah kegelapan, dengan janji kemajuan dan kehidupan yang lebih mudah. Jalan aspal yang mereka bangun menghubungkan dunia luar, sementara Desa Larangan terjebak dalam kesunyian dan keterasingan.
Ratu Langit mengerti bahwa ini bukan sekadar tentang tanah dan air yang tercemar. Ini adalah pertarungan untuk menjaga jiwa mereka, menjaga siapa mereka di tengah dunia yang semakin berputar cepat, dunia yang mungkin akan meninggalkan mereka jika mereka tidak hati-hati.
Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung rendah di langit, Ratu Langit bermimpi. Ia berdiri di tepi mata air suci, namun airnya tidak lagi jernih. Ia melihat leluhur berdiri di seberang, wajah mereka pudar seperti bayangan di permukaan air. “Jaga tanah ini,” kata salah satu leluhurnya, suaranya serak seperti angin yang berbisik di antara pepohonan. “Tapi ingat, kekerasan tak akan menyucikan air yang keruh. Hanya kebenaran yang bisa.”
Ketika ia terbangun, pagi telah menjelang. Namun perasaan dari mimpi itu tetap menempel di dadanya, seperti beban yang tak bisa ia lepaskan. Ia tahu, jalan yang mereka tempuh bisa berakhir buruk jika tidak segera ada jalan damai. Ratu Langit memutuskan bahwa ia harus berbicara langsung dengan mereka yang berkuasa di Desa Tirta Kaca, meski risiko penolakan begitu besar.
Diiringi beberapa tetua dan pemuda, Ratu Langit berjalan menuju pusat Desa Tirta Kaca. Mereka tidak membawa senjata, hanya niat untuk berbicara, meski hatinya berdegup kencang seperti genderang perang. Di sana, ia berhadapan langsung dengan kepala desa dan beberapa pejabat pemerintah setempat. Suasana penuh ketegangan, seperti dua arus air yang bertemu di titik berbahaya.
“Tanah ini,” ujar Ratu Langit dengan suara bergetar, namun tegas, “adalah rumah leluhur kami. Kami tidak menolak kemajuan, tapi janganlah itu menghancurkan apa yang telah hidup jauh sebelum kita semua ada di sini.”
Kepala Desa Tirta Kaca, seorang lelaki dengan jas yang rapi, hanya menghela napas panjang. Ia sudah terlalu terbiasa dengan tuntutan dan protes, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada kekuatan di mata Ratu Langit, kekuatan yang tak ia pahami sepenuhnya, namun bisa ia rasakan menyentuh sisi terdalam dirinya.
Setelah keheningan yang panjang, kepala desa itu berkata pelan, “Aku mengerti beban yang kau pikul, Ratu Langit. Tetapi kita juga harus berpikir tentang masa depan generasi kita.” Ia memandang ke arah para tetua di samping Ratu Langit, mencoba mencari dukungan. “Apakah kita tidak ingin mereka memiliki kehidupan yang lebih baik?”
Ratu Langit tak bergeming. “Kehidupan yang lebih baik tidak bisa dibangun di atas kuburan leluhur. Apa yang kau bangun di sini, jika terus seperti ini, tidak akan bertahan. Air akan semakin keruh, dan tanah ini akan memberontak.”
Percakapan itu berlangsung lama, diwarnai dengan argumen yang saling bertentangan. Namun, di penghujung hari, sebuah titik terang muncul. Kepala desa dan pejabat pemerintah setuju untuk menghentikan sementara proyek yang mengancam sumber daya alam Desa Larangan. Mereka berjanji akan mengundang ahli ekologi dan mediator adat untuk memutuskan langkah selanjutnya, dengan menghormati adat yang selama ini dipegang teguh oleh warga Desa Larangan.
Namun, Ratu Langit tahu ini hanyalah awal. Jalan menuju perdamaian adalah perjalanan yang panjang, dan ia belum bisa merayakan kemenangan. Dalam hatinya, ia masih merasakan keruhnya air yang mengalir di lembah. Masa depan yang damai harus diperjuangkan setiap hari, dengan dialog, pengertian, dan kesabaran yang luar biasa.
Ketika ia kembali ke Desa Larangan, wajah-wajah penuh harapan menyambutnya. Meskipun belum ada kepastian, hari itu, mereka merasa telah menyentuh titik balik. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan kata-kata yang jujur dan hati yang tulus.
Di tengah malam yang sunyi, suara air yang mengalir dari mata air suci terdengar sedikit lebih jernih, seperti nafas alam yang akhirnya mendapatkan ruang untuk berbicara kembali.


































