
Oleh:
Hubert Herianto
Alumni Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang
Pagelaran Budaya bertajuk SERENA yang diadakan Ikatan Keluarga Besar Manggarai Raya (IKAMAYA) Yogyakarta pada Sabtu, 12 April 2025, memiliki daya luar biasa.
Acara yang berlangsung di Lapangan Pemda Sleman, Yogyakarta, ini menampilkan aneka macam kebudayaan khas Manggarai, seperti tarian caci, nyanyian berbahasa Manggarai, dan sebagainya.
Di antara sekian banyak mata acara yang ditampilkan, saya amat terkesan dengan teater yang dibawakan Komunitas Niang Gejur, sebuah komunitas mahasiswa Mangggarai di Yogyakarta yang bergiat di bidang seni.
Teater ini secara amat lugas menunjukkan kepedulian mahasiswa asal Manggarai, secara khusus yang tergabung dalam komunitas Niang Gejur, terhadap persoalan geothermal yang terjadi di Poco Leok, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Terlepas dari perdebatan antara kelompok pro dan kontra terkait persoalan ini, persembahan teater dari Komunitas Niang Gejur hendak menggemakan pesan yang amat mendalam, tentunya sejauh yang saya tangkap.
Niang Gejur Memanggil, yang menjadi judul tulisan ini, terinspirasi dari nama gerakan seperti ‘Jogja Memanggil’ dan ‘Gejayan Memanggil’.
Aksi-aksi demonstrasi yang mereka inisiasi merupakan bentuk kepedulian terhadap situasi sosial-politik di Indonesia.
Sebagaimana gerakan dan aksi ‘Jogja Memanggil’ dan ‘Gejayan Memanggil’, teater yang disuguhkan komunitas Niang Gejur mengetok hati setiap orang, khususnya mahasiswa asal Manggarai Raya, untuk peduli terhadap situasi yang terjadi di Manggarai.
Teater ini memaksa dan menantang setiap orang untuk ‘awas’ dan ‘sadar’ terhadap aneka persoalan yang mengancam ruang hidup masyarakat Manggarai.
Singkat kata, Niang Gejur memanggil mahasiswa atau siapa pun yang berasal dari Manggarai untuk menyadari ke-Manggarai-annya dan merealisasikannya dengan cara mengarahkan pandangan ke Manggarai, termasuk ke persoalan geothermal di Poco Leok.
Berikut adalah tiga pesan utama yang saya dapatkan setelah menyaksikan dan merefleksikan teater berjudul ‘Balada Tana Mbate’ dari Komunitas Niang Gejur.
Geothermal mengancam ruang hidup
Teater Balada Tana Mbate menegaskan kembali bahwa Tanah Manggarai adalah sah milik orang Manggarai.
Setiap jengkal tanah yang ada di bumi Manggarai adalah warisan para leluhur (tana mbate) yang harus dijaga dan dirawat, bahkan hingga ‘titik darah penghabisan’.
Karena itu, kehadiran geothermal yang dinilai merusak alam dan mengancam ruang hidup, baik dari masyarakat setempat maupun makhluk hidup lain seperti flora dan fauna yang tinggal di wilayah itu mesti dilawan dan ditolak.
Saya melihat bahwa pesan ini sungguh sangat penting, mengingat ada kelompok masyarakat tertentu yang merasa terancam dengan rencana pengembangan luas wilayah pengeboran yang direncanakan pemerintah.
Penolakan masyarakat yang merasa terancam dengan keberadaan geothermal di Poco Leok dan persoalan yang mengitarinya dapat disimak dalam pelbagai liputan/kajian media seperti Floresa.co.
Adanya kelompok masyarakat yang menolak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kehadiran geothermal mengancam kehidupan masyarakat lokal di sekitar wilayah pengeboran.
Selain berupa polusi, keterancaman ini juga lahir karena perluasan wilayah pengeboran dapat merusak tanah yang digunakan masyarakat untuk menanam komoditas tertentu seperti kopi dan sebagainya.
Tentu saja, bila tanah mereka terdampak dan tidak lagi berfungsi dengan baik, maka akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat.
Seruan yang digaungkan komunitas Niang Gejur melalui teater Balada Tana Mbate memberi peringatan bahwa potensi konflik makin mengemuka karena pemerintah tetap pada pendiriannya untuk memperluas wilayah pengeboran kendati ada penolakan dari pelbagai pihak, termasuk institusi agama yang lebih peduli pada korban yang merasa terancam.
Memelihara alam ciptaan Tuhan, bukan mendewakan uang dan kemajuan
Pernyataan dari aktor yang berperan sebagai rakyat biasa dalam teater Balada Tana Mbate seperti ‘Mori Kraeng kali ata imbi dami’ (kami hanya percaya kepada Tuhan Allah), ‘Mori ata bae damin mori ata momang mendi anak’n’ (Tuhan Allah yang kami tahu adalah Tuhan yang menyayangi para hamba-Nya), menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai, terutama yang merasa terancam akibat adanya geothermal, hanya mengimani Mori Kraeng (Tuhan Allah) sebagai wujud tertinggi.
Ini juga menunjukkan perlawanan masyarakat yang menjadi korban geothermal, terhadap perpesktif penguasa ataupun pemikiran zaman ini yang kadangkala mendewakan uang dan kemajuan.
Uang dan kemajuan ditempatkan sebagai ‘Tuhan baru’ yang harus disembah, bahkan bila harus mengorbankan manusia dan alam ciptaan lain.
Sebaliknya orang Manggarai yang mengimani Tuhan sebagai Pencipta hendak berusaha untuk tetap merawat tanah mereka dan menjaganya sebagai sesuatu yang berharga.
Bagi mereka, merusak tanah berarti mengkhianati Mori Kraeng. Itulah filosofi hidup orang Manggarai.
Namun demikian, mengutamakan Mori Kraeng dibanding uang dan kemajuan, bukan berarti bahwa orang Manggarai menolak kemajuan.
Mereka hanya menolak kemajuan yang merusak dan merenggut tanah, bahkan hidup mereka.
Orang Manggarai tetap terbuka pada kemungkinan kemajuan, asal tidak merusak tatanan hidup mereka.
Fakta ini tentu sangat penting sebab orang Manggarai hidup berdampingan dan harmonis dengan alam ciptaan lain, terlebih kepada Mori Kraeng.
Cara berpikir demikian menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat Manggarai, ‘uang dan kemajuan bukan segala-galanya.’
Kemajuan harus mengabdi pada hidup manusia. Kemajuan tidak boleh mempersempit ruang hidup manusia, merusak dan mengganggu keharmonisan relasi mereka dengan sesama, alam, dan Tuhan atau Mori Kraeng.
Pulang kampung
‘Kole beo’ atau pulang kampung adalah pesan penting lain yang disampaikan Niang Gejur melalui teater Balada Tana Mbate.
Seruan pulang ke kampung atau kembali ke Manggarai tentu bukan berarti pulang begitu saja, lalu menetap, hidup, dan kelak mati atau ‘hidup menunggu mati’.
Kole Beo memiliki makna lebih mendalam. Kole Beo adalah ajakan untuk pulang, mengabdi, dan membangun Manggarai tanpa merusaknya.
Kole Beo adalah saat untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang didapat selama berkuliah atau pun berkarya, entah di Yogyakarta maupun tempat lain, sehingga kehidupan di tanah Manggarai menjadi lebih baik dan sejahtera.
Memaknai Manggarai sebagai tanah warisan leluhur (tana mbate), menjaga dan merawat alam ciptaan Tuhan atau Mori Kraeng yang disembah dan bukan uang dan kemajuan yang mengancam ruang hidup dan keharmonisan, dan pulang kampung (kole beo), merupakan tiga panggilan Niang Gejur bagi segenap keluarga besar Manggarai di Yogyakarta, termasuk di daerah mana pun.
Kita, yang mengikuti pagelaran budaya IKAMAYA dan menyaksikan teater dari Niang Gejur, dipanggil untuk peduli dengan Manggarai melalui cara kita masing-masing.
Teater Balada Tana Mbate dari Niang Gejur, menyadarkan kita untuk kembali ke Manggarai, peduli pada isu-isu sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup yang terjadi di Manggarai, dan menyumbangkan pemikiran serta keterlibatan demi kesejahteraan bersama sebagai pemilik sah tanah Manggarai.
Gema teater Balada Tana Mbate mungkin tak seberapa, tetapi setidaknya mereka telah bersuara, mengetok nurani, dan (mungkin) mengganggu penguasa atau para dalang di balik penderitaan yang lahir atas nama kemajuan, terutama yang terjadi akibat geothermal.
Editor: Vansianus Masir





























