
Oleh:
M. Alif Febriansyah
Seorang Aktivis Sosial
Kemajuan teknologi dan media sosial memang mempermudah komunikasi, tetapi di sisi lain memengaruhi cara manusia memandang cinta, komitmen, dan hubungan itu sendiri.
Hubungan di era modern menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Jika sebelumnya hubungan dibangun melalui proses panjang dan kesabaran emosional, kini cinta sering kali berjalan dalam ritme instan yang didikte oleh standar media sosial yang semu.
Validasi Instan
Psikolog Jean Twenge dalam bukunya iGen (2017) menjelaskan bahwa generasi digital tumbuh dalam budaya validasi instan.
Tombol like, komentar, dan atensi di media sosial kini memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri maupun pasangannya.
Platform seperti TikTok, Instagram, dan X secara tidak langsung membentuk standar baru: pasangan dianggap ideal hanya jika mampu memberi hadiah mewah, selalu peka, dan bersikap romantis setiap saat.
Media sosial menciptakan ilusi bahwa hubungan harus selalu sempurna. Ketika realita tidak sesuai ekspektasi digital, konflik kecil terasa besar dan pasangan dianggap gagal.
Padahal, sebagian besar konten tersebut hanyalah potongan momen terbaik yang tidak menggambarkan realitas sebenarnya.
Akibatnya, hubungan perlahan rapuh dan berubah menjadi ajang pembuktian sosial, bukan lagi ruang untuk bertumbuh.
Rasa syukur pun terkikis karena kebiasaan membandingkan hidup dengan standar palsu di internet.
Hilangnya Respek
Permasalahan hubungan modern ini menunjukkan adanya krisis kedewasaan emosional yang melintasi gender.
Banyak laki-laki gagal mengelola emosi atau bersikap terlalu posesif, sementara ada pula perempuan yang merasa setiap kritik adalah pengekangan dan terjebak dalam victim mentality.
Jean Twenge mengidentifikasi bahwa penyebab utama rusaknya hubungan generasi ini adalah memudarnya respek, yang membuat seseorang sulit menerima kritik dan enggan memahami pasangan.
Terkait hal ini, John Gottman dalam The Seven Principles for Making Marriage Work (1999) memperkenalkan konsep The Four Horsemen of the Apocalypse: criticism, contempt, defensiveness, dan stonewalling.
Menurutnya, pasangan yang lebih sering merendahkan dan mempertahankan ego cenderung mengalami kerusakan emosional yang fatal.
Komunikasi yang seharusnya menjadi solusi justru berubah menjadi ajang saling menyalahkan, di mana perbedaan pendapat sering berakhir pada ancaman perpisahan.
Cinta yang Cair dan Pola Keterikatan
Kondisi ini sejalan dengan pemikiran sosiolog Zygmunt Bauman dalam Liquid Love (2003).
Bauman menjelaskan bahwa hubungan modern bersifat “cair” dan tidak stabil. Manusia menginginkan kedekatan tetapi takut pada keterikatan jangka panjang.
Akibatnya, komitmen dianggap sebagai beban yang membatasi kebebasan pribadi.
Ketidakstabilan tersebut diperparah oleh fenomena insecure attachment yang dijelaskan John Bowlby dalam Attachment and Loss (1969).
Pola keterikatan yang terbentuk dari pengalaman masa kecil ini memengaruhi cara individu berhubungan saat dewasa.
Seseorang dengan pola tidak aman cenderung mudah takut ditinggalkan, haus validasi, atau sulit memercayai orang lain.
Butuh Keseimbangan
Esther Perel dalam Mating in Captivity (2006) berpendapat bahwa hubungan yang sehat memerlukan keseimbangan antara kebebasan dan komitmen.
Cinta tidak dapat bertahan hanya dengan perasaan tetapi memerlukan rasa hormat dan kemampuan memahami kebutuhan pasangan tanpa kehilangan identitas diri.
Generasi muda perlu menyadari bahwa hubungan bukanlah tempat mencari kesempurnaan seperti di media sosial, melainkan ruang belajar untuk bertumbuh bersama.
Tidak semua konflik harus berakhir dengan perpisahan, dan tidak semua bentuk perhatian adalah pengekangan. Kebebasan harus tetap berdampingan dengan tanggung jawab.
Pada akhirnya, hubungan yang kuat bukanlah hubungan tanpa masalah, melainkan hubungan yang diisi oleh dua orang yang mau belajar memperbaiki diri.
Sebab, cinta tanpa kedewasaan hanya akan menghasilkan luka.
Di tengah zaman yang serba instan, kemampuan untuk bertahan, berkomunikasi, dan menghargai pasangan justru menjadi bentuk kedewasaan yang semakin langka.





























