TEROPONG–Wisuda bukan sekadar penanda berakhirnya perjalanan akademik, melainkan mandat yang harus ditunaikan melalui kontribusi nyata untuk mengabdikan ilmu dalam membela kepentingan rakyat.
Pesan tersebut disampaikan Suster Yuni Sarah Barus, FCJM melalui sambutannya saat mewakili 178 wisudawan dan wisudawati Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta dalam prosesi wisuda pada 26 September 2026.
Pada periode ini, wisudawan dan wisudawati tersebut terdiri atas 49 orang dari Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Pemerintahan.
Sementara itu, rincian untuk jenjang Strata Satu (S-1) yaitu: Prodi Ilmu Pemerintahan 77 orang, Pembangunan Sosial 20 orang, dan 18 orang dari Ilmu Komunikasi.
Adapun untuk jenjang Diploma Tiga Pembangunan Masyarakat Desa (D-3 PMD) berjumlah 14 orang.
Bukan semata pencapaian pribadi
Lulusan terbaik dari Prodi Pembangunan Sosial ini mengajak seluruh rekan angkatannya untuk memaknai gelar sarjana bukan hanya sebagai pencapaian pribadi.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan hasil dari perjuangan panjang yang melibatkan banyak pihak, terutama dukungan penuh dari keluarga.
Baginya, toga yang dikenakan para wisudawan dan wisudawati adalah simbol yang di baliknya terdapat pengorbanan, kerja keras, kepercayaan, serta doa orang tua yang selalu menyertai setiap proses studi demi kebaikan masa depan anak-anak mereka.
Secara pribadi, Suster Yuni berharap kesuksesannya menyelesaikan kuliah menjadi bentuk terima kasih, penghargaan, dan penghormatan kepada orang tua yang telah mengantarkannya hingga ke tahap tersebut.
Selain kepada orang tua, ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Kongregasi FCJM (Franciscanae Filiae Sanctissimae Cordis Jesu et Mariae) atau Suster-suster Fransiskan Puteri-puteri Hati Kudus Yesus dan Maria—sebuah kongregasi religius Katolik yang didirikan oleh Muder Maria Clara Pfänder dan berakar pada spiritualitas Santo Fransiskus Assisi.
Suster Yuni mengungkapkan, FCJM telah menjadi bagian penting yang memberikan semangat, perhatian, pendampingan, serta kasih dalam perjalanan hidup dan pendidikannya, sehingga ia tetap bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada seluruh dosen dan civitas akademika STPMD “APMD” Yogyakarta.
Pembelajaran di ruang kelas selama ini, kata dia, selain mengembangkan kemampuan akademik juga merupakan pengalaman berharga yang turut mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, dan kepedulian terhadap kepentingan publik.
“Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi para lulusan ketika memasuki dunia kerja dan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat,” ujar Suster Yuni.
Di mana pun, jadilah terang
Biarawati asal Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara—sebuah daerah agraris dengan udara sejuk di kaki Gunung Sibayak dan Sinabung—tersebut tak lupa pula mengingatkan rekan sesama wisudawan dan wisudawati bahwa perjalanan menuju kelulusan tidak pernah berjalan mudah.
Ada masa ketika mengalami kegagalan, menghadapi kesulitan, merasa tidak mampu, bahkan meragukan diri sendiri.
“Teman-teman, berbahagialah hari ini. Kita pernah jatuh, pernah gagal, pernah merasa tidak layak. Tapi kita tidak berhenti. Kita membuktikan bahwa kita bisa menyelesaikan apa yang dimulai,” katanya.
“Terima kasih telah bertahan ketika menyerah terasa lebih mudah. Selamat memenangkan masa depan. Melangkahlah dengan syukur, berani, dan rendah hati. Jadilah terang di mana pun kalian berada. Selamat kepada kita semua. Kini saatnya mulai menyala,” tutupnya.































