Fasisme Menguat, Bangun Kampus sebagai Ruang Tumbuhnya Kesadaran Kritis dan Benteng Pertahanan Rakyat

4
186
Kegiatan dalam rangka peringatan 22 tahun berdirinya FMN berlangsung di kantin kampus STPMD 'APMD' (Foto: TEROPONG/Timotius D. Ngara)

TEROPONG—Front Mahasiswa Nasional (FMN) mendorong kampus harus menjadi ruang membangkitkan kesadaran kritis massa mahasiswa.

Kampus mesti menjadi benteng pertahanan dalam menggelorakan semangat perlawanan terhadap berbagai bentuk fasisme dan berjuang bersama rakyat dalam mencapai kemenangan yang sejati.

FMN merupakan organisasi massa mahasiswa yang lahir pada  18 Mei 2003 di Hutan Kayu, Jakarta Selatan, dan mempunyai garis politik ‘demokratis-nasional’.

Demokratis artinya ‘anti feodalisme’, dan nasional berarti ‘anti imperialisme’, serta melihat negara Indonesia sebagai negara ‘setengah jajahan dan setengah feodal’ (SJSF).

Ergenius Tesen, Ketua FMN Ranting STPMD ‘APMD’ mengungkapkan, garis politik organisasi untuk mewujudkan ‘pendidikan yang ilmiah, gratis dan mengabdi kepada rakyat’ hanya mungkin tercapai dengan memperbesar barisan massa.

Tujuan yang dicita-citakan tidak mungkin tercapai kalau setiap elemen bergerak sendiri-sendiri. “Karena itu, keberadaan organisasi menjadi sangat penting,” katanya.

Itu ia ungkapkan saat dihubungi TEROPONG dalam kegiatan peringatan ulang tahun ke-22 FMN pada 18 Mei 2025 yang berlangsung di kantin kampus STPMD ‘APMD’.

Kegiatan tersebut diinisiasi atas kolaborasi FMN Ranting STPMD ‘APMD’, FMN Cabang Yogyakarta dan FMN Ranting Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Mengusung tema ‘Bangun Kampus Sebagai Benteng Pertahanan Rakyat Melawan Fasisme’ kegiatan ini diikuti 60 orang dari perwakilan organisasi-organisasi mahasiswa di Yogyakarta, baik organisasi eksternal maupun internal kampus. Turut hadir juga beberapa alumni organisasi tersebut.

Bangkitkan Kesadaran Massa

Ergen berkata, tema ini diangkat karena melihat fasisme di negara Indonesia semakin parah dan menguat. Kebutuhan rakyat tidak dipenuhi oleh negara.

Pemerintah meminggirkan peranan kaum tani dengan adanya praktik perampasan lahan serta pembuatan kebijakan yang orientasinya bukan untuk melayani dan melindungi kepentingan rakyat, kata dia.  

Karena itu, lanjut dia, kampus dan mahasiswanya harus lebih kritis dengan terlibat dalam berbagai forum diskusi agar lebih peka melihat situasi-situasi sosial yang sedang terjadi.

Ergen menambahkan, perjuangan pemuda mahasiswa bukanlah sesuatu yang eksklusif, melainkan mesti ‘terhubung dengan perjuangan petani di pedesaan, buruh di pabrik dan perjuangan perempuan’.  

Ia berharap ke depannya FMN semakin berkembang dan meluas. Bagi dia, organisasi ini merupakan wadah yang tepat untuk berjuang dan mengedukasi pemuda mahasiswa untuk memahami problem-problem pokoknya seperti mahalnya biaya kuliah, adanya pelecehan seksual dan sebagainya.

Naswan Kamarullah, Pimpinan FMN Ranting UMY mengungkapkan, usia 22 tahun menjadi saat untuk membangkitkan kesadaran massa lewat garis politik yang telah dibangun FMN sejak awal berdirinya hingga saat ini masih tetap dipertahankan.

Garis politik ‘demokratis nasional’ diupayakan menjadi lebih familiar di berbagai macam gerakan baik dalam bentuk aliansi maupun kerja massa, Ungkap Atir, sapaan akrabnya.

Dengan demikian, gerakan ‘demokratis nasional’ sebagai organisasi pemuda mahasiswa ke depannya dapat melahirkan aktivis demokratis nasional yang lebih masif dalam mengorganisasikan rakyat kecil, yang tertindas dan terisap, baik yang di pedesaan maupun perkotaan.

Pimpinan FMN Cabang Yogyakarta, Ricardus Angki Saputra berkata, perjalanan 22 tahun adalah gambaran bahwa FMN sampai hari ini mampu terus ‘tegak berdiri bersama rakyat’ dan terus mendorong kesadaran massa mahasiswa maupun massa rakyat yang tertindas dalam menggelorakan semangat perlawanan yang kuat dalam sektor kampus.

Lebih lanjut, Ricardus menyampaikan, FMN akan kembali membangun kampus sebagai benteng atau kekuatan pertahanan perjuangan rakyat dan melancarkan perlawanan, apalagi di tengah fasisme rezim di sektor kampus yang kian mencekam lewat masuknya militer.

“Ini mesti menjadi patokan bagi gerakan di setiap daerah agar memasifkan dan mendorong kesadaran mahasiswa untuk maju dan terus mempelajari teori dan praktik dalam mencapai kemenangan rakyat yang sejati,” katanya.

Berorganisasi: Kunci Mencapai Perubahan

Sementara itu, Erlangga HB, alumni FMN berkata, keberadaan FMN harus lebih intensif lagi berada di pedesaan di mana monopoli tanah semakin masif terjadi, mengorganisasikan kaum tani di seluruh Indonesia agar lebih kuat dan maju.

Tidak hanya kaum tani yang berada di wilayah konflik, tetapi juga di wilayah yang ‘relatif’ tidak ada konflik untuk membangun ‘barisan basis’ sebagai syarat terwujudnya reformasi agraria sejati, kata dia.

Ia pun memberi apresiasi kepada kaum muda, utamanya mahasiswa yang memiliki kesadaran yang tinggi untuk berorganisasi.

Hanya melalui organisasi, perjuangan rakyat bisa diakumulasikan. Tanpa organisasi, gerakan mahasiswa tidak akan meraih apa pun, selain frustrasi yang akut, ungkapnya.

Karena itu, tambah dia, memperbesar FMN dengan mengorganisasikan semakin besar mahasiswa menjadi kunci bagi terwujudnya suatu perubahan yang fundamental bagi rakyat Indonesia.

“Terus maju, tumbuh dan berkembang, tetap menjadi abdi dan pelayan setia rakyat,” tutup Erlangga.

Selanjutnya di akhir acara yang dipandu Yesicca Hadiya, Pimpinan Cabang FMN Yogyakarta terdapat penampilan puisi yang di dalamnya mengandung spirit perlawanan terhadap kebijakan negara dengan logika dari, oleh, dan untuk pembangunan yang eksploitatif.

Rifal Umbu Djawa, dalam puisinya berjudul ‘Tuan Seorang Pembunuh’ menyoroti penguasa yang meneror, mengintimidasi bahkan membunuh rakyatnya sendiri demi melayani kepentingan borjuasi dan kapitalis komprador.

Menurut dia, penguasa negeri ini mengaku berintelektual tapi sering menyelesaikan masalah dengan moncong senjata, yang seharusnya rakyat membutuhkan kebebasan untuk mengejar impian bukan untuk dibunuh secara bebas dan terang-terangan. Meski begitu, semangat perlawanan dan perjuangan tidak boleh mati, kata Rifal.

Sementara itu, Bayu Kurniawan melalui puisi bertajuk “Nyanyian Panas di Tanah Hijau” menyampaikan keresahannya atas proyek geotermal di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, NTT yang dijadikan objek eksploitasi atas nama pembangunan.

Bayu menulis, ‘orang-orang membawa peta dan alat-alat, dan tentang kota yang akan terang menerang, namun itu hanyalah alasan untuk pembangunan yang eksploitatif’.

Laporan ini ditulis Timotius Depa Ngara

Editor: Vansianus Masir