TEROPONG—Kampus adalah pusat industri pemikiran. Tugas politik di kampus adalah membantu mematangkan budaya demokrasi, salah satu caranya dengan menjadikan kampus sebagai panggung uji publik. Kampus juga sebagai ladang mencetak generasi intelektual.
Beberapa organisasi mahasiswa baik organisasi internal maupun eksternal kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi APMD Bergerak meliputi Serikat Mahasiswa Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, Front Mahasiswa Nasional, Kelompok Studi Tentang Desa dan Himpunan Mahasiswa Pembangungan Masyarakat Desa menginisiasi kegiatan Panggung Demokrasi pada Rabu (8/5/2024) dalam menyikapi Hari Pendidikan Nasional dan May Day. Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Futsal kampus STPMD ‘APMD’ Yogyakarta.
Salah seorang panitia kegiatan, Ergenius Tesen mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengakomodasi hak mahasiswa dalam menyampaikan pendapat tentang isu-isu teraktual baik di tingkat lokal, nasional hingga internasional. “Panggung demokrasi bisa juga menjadi laboratium demokrasi di kampus,” katanya.
Mahasiswa mengekspresikan pendapat dan keresahannya dengan beragam cara seperti orasi, musikalisasi puisi, menyanyikan lagu dan sebagainya. Mahasiswa menyoroti berbagai isu krusial seperti pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan terbatasnya demokrasi kampus.
Selain itu, Sekretaris Umum HMI Komisariat APMD, Rizal Rumagoran mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya momentum tahunan di kampus melainkan bertujuan penting untuk memantik gerakan mahasiswa serta membangun kesadaran sosial mahasiswa supaya lebih peduli terhadap kondisi pendidikan dan perburuhan.
“Kita ingin memastikan bahwa kurikulum pendidikan tinggi tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga membahas isu-isu sosial yang relevan dan menyangkut kepentingan masyarakat umum,” tukas Rizal.
Perguruan tinggi, kata dia, tidak boleh mengisolasi mahasiswa dari realitas sosial, politik, dan ekonomi yang ada. Lembaga kampus harus mampu membuka ruang diskusi dan refleksi yang kritis terhadap persoalan publik. Rizal berkata kita menginginkan kampus bisa berkontribusi terhadap kepentingan nasional dan rakyat. “Supaya kontribusi itu bisa terwujud, maka sudah saatnya segalah hal yang berkaitan dengan kebijakan kampus, harus melibatkan massa mahasiswa, pegawai/pekerja, dan warga masyarakat di sekitar kampus,” ungkap dia.
Dalam orasinya, Audy Pekulimu, mahasiswa program studi ilmu pemerintahan mengungkapkan ‘Panggung Demokrasi’ menyoroti berbagai persoalan di kampus yang belum diselesaikan yaitu fasilitas yang belum memadai dan tidak adanya transparansi anggaran untuk organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Unit Kegiatan Mahasiswa.
Berbagai tuntutan, kata Audy, sudah pernah disampaikan mahasiswa melalui aksi demontrasi dan diakhiri dengan audiensi langsung dengan pihak lembaga yang dihadiri langsung oleh Ketua STPMD ‘APMD’ Yogyakarta, Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si., pada tahun 2023 lalu. Berbagai tuntutan yang disampaikan pada saat itu ditandatangani oleh Dr. Sutoro sendiri dan ‘berjanji siap dieksekusi.’
“Mari kita kawal terus tuntutan mahasiswa yang sudah ditandatangani ketua sekolah tinggi namun belum direalisasikan sampai hari ini,” tegas Audy.
Selain itu, Audy mengungkapkan bahwasannya berbicara buruh sebetulnya sangat dekat dengan mahasiswa karena rata-rata orang tua mahasiswa di kampusnya adalah kaum buruh-tani. Karena itu, baginya, memperjuangkan hak buruh adalah hal yang seharusnya dilakukan mahasiswa.
Panggung Demokrasi’ tersebut juga menampilkan musikalisasi puisi, salah satunya puisi berjudul ‘Perempuan Penjaga Api’ karya Nolinia Zega yang dibawakan Tiara, mahasiswa baru angkatan tahun 2023.
Puisi ini, ungkap Tiara, menceritakan seorang perempuan yang berjuang di bawah rezim kapitalisme dengan segala bentuk tantangan yang dilaluinya. Tiara berkata, puisi ini menjadi penyemangat bagi kaum perempuan dalam melakukan kegiatan sekaligus merefleksikan untuk mengajak sesama kawan perempuan agar berjuang bersama. ( Rifal umbu djawa),(Dartono Laiya Bokamanu)

