Oleh:
Philipus Pati Niron*
Dalam labirin kehidupan yang berkelok
Kau bawa aku menelusuri lorong-lorong sunyi
Dua pintu terbuka, satu gemerlap
Satu lagi sempit, bagaikan rahasia
Tempat di mana jiwa teruji.
“Masuklah ke dalam, melalui celah yang sempit,”
Kau bisikan lembut bagai embun pagi
“Di situ, di antara duri dan liku
Hati menemukan makna
Jiwa terlahir kembali dalam kerendahan.”
Di jalan lebar, suara ramai bergaung
Sukacita instan, riuh tanpa makna
Saat malam menjelang
Hati ini bertanya lirih
“Ke mana rindu ini mengalir?”
Sementara di jalan sempit
Langkah terasa berat
Namun cahaya lembut bertahta
Menghangatkan, seumpama pelukan kasih
Tak lekang oleh waktu, takkan pudar.
Setiap tikungan adalah pelajaran
Setiap rintangan mengajarkan keteguhan
Di sanalah aku meresapi keindahan
Menemukan harmoni dalam kesederhanaan
Melodi cinta yang tak terukur.
Kau, penuntun dalam gelap
Sabar menuntun langkahku
Mengajari arti ketekunan
Di antara badai dan sunyi
Dalam setiap detak jantung, Kau hadir.
Terkadang aku terjatuh
Terkurung dalam keraguan kelam
Namun suara lembut itu membangkitkan
“Bangkitlah, wahai jiwa,
Setiap jatuh adalah sayap baru untuk terbang.”
Dalam perjalanan ini kutemukan
Bahwa tak selamanya lebar menjanjikan
Karena di balik jalan sempit
Ada keindahan yang tak terduga
Cinta yang terukir dalam waktu.
Jalan yang terjal, penuh misteri
Mengantarkanku pada pertemuan sejati
Dengan diriku, dengan-Mu
Di setiap langkah, aku berjanji
Untuk terus melangkah, hingga akhir abadi.
Di balik pintu sempit ini,
Terdapat kehidupan hakiki
Tempat di mana hati berlabuh
Di mana kasih abadi terjaga
Maka ajarkan aku, ya Tuhanku
Memilih dengan bijaksana
Di antara yang lebar dan yang sempit
Menuju cahaya-Mu yang abadi.
Philipus Pati Niron adalah Mahasiswa Program Studi Pembangunan Sosial Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta

