Partisipasi perempuan dalam ruang publik dinilai masih sangat minim. Ruang-ruang diskusi masih didominasi laki-laki. Sudah saatnya perempuan berani menyampaikan gagasan di ruang publik.
Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar Kelompok Studi Tentang Desa (KESA) Yogyakarta yang bertajuk “Prahara Partisipasi Perempuan Dalam Ruang Diskusi.” Diskusi tersebut berlangsung di Perpustakaan Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta, Rabu, 27 Maret 2024.
Acara ini menghadirkan Fasilitator Friend Peace Team Apriana H. Mayu, sebagai pemateri dan Ketua Pemberdayaan Perempuan KESA Anastasya Vedruna W. Ngole, selaku moderator.
Peserta KESA saat diskusi di teras perpustakaan STPMD “APMD Yogyakarta, Rabu (27/03/2024) (HALOTEROPONG.COM / VANSIANUS MASIR)
Apriana H. Mayu mengatakan sekarang ini ruang-ruang publik sudah tersedia, bukan hanya untuk laki-laki melainkan juga bagi perempuan. Akan tetapi, ruang-ruang yang ada belum dimanfaatkan dengan baik.
“Zaman dulu, perempuan sangat dibatasi. Perempuan tidak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun saat ini, ketika kesempatan itu sudah terbuka lebar, perempuan masih takut untuk bersuara,” ungkap Apriana, Rabu (27/3/2024).
Menurut Apriana, rendahnya keterlibatan perempuan dalam mendiskusikan masalah-masalah publik disebabkan karena perempuan masih mengalami ‘penindasan’. Penindasan tersebut tidak lagi disebabkan oleh laki-laki tetapi oleh ketakutan dan kecemasan perempuan itu sendiri.
Masalah yang dialami baik laki-laki dan terutama perempuan, kata Apriana, adalah ketidakmampuan untuk melihat ruang serta rendahnya kesadaran untuk terlibat aktif dalam setiap ruang yang ada. Padahal, ruang publik juga butuh lebih banyak gagasan perempuan agar persoalan publik bisa dilihat secara lebih adil baik dari perspektif perempuan maupun laki-laki.
“Setiap kali datang diskusi kita mesti bertanya: Mengapa saya berada di sini? Kita hadir untuk terlibat dan bersuara bukan diam membatu. Agar bisa terlibat, persoalan-persoalan yang dialami di indekos atau di tempat lain harus dilepaskan. Begitu juga dengan kecemasan akan hari esok. Kita sepenuhnya harus sadar ada di sini, saat ini, sekarang,” ungkapnya.
Selain itu, Apriana juga berpendapat bahwa sebetulnya laki-laki dan perempuan kodratnya sama yaitu sebagai manusia yang segambar dan serupa dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. “Laki-laki dan perempuan memiliki harkat dan martabat yang sama. Kita semua setara,” kata dia.
Bagi Apriana, pandangan bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau harus perempuan yang kerja di dapur bukan sesuatu yang terjadi secara alamiah melainkan konstruksi sosial berdasarkan perspektif manusia yang didominasi sudut pandang laki-laki.
Karena itu, kata Apriana, kita jangan hidup berdasarkan penilaian orang lain karena kita akan kehilangan jati diri kita yang sebenarnya. “Sampai kapan pun, konstruksi sosial itu tidak pernah selesai dan pendapat orang lain terhadap kita berbeda-beda,” tegasnya.
Upaya yang bisa kita lakukan, ungkap Apriana adalah menjemput setiap kesempatan dan memanfaatkan setiap ruang sebaik mungkin. Ruang yang ada bukan milik laki-laki semata. Perempuan perlu menyampaikan gagasan bersama dengan laki-laki.
Anggota KESA, Angelica P. Gunawan menilai partisipasi perempuan dalam ruang diskusi bertujuan meningkatkan kepercayaan diri, memperluas pengetahuan, menambah relasi dan pengalaman serta melatih kemampuan public speaking.
Lebih lanjut, Angelica berpendapat partisipasi perempuan dalam ruang-ruang diskusi memiliki makna bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk berbicara dan mengutarakan pendapat. (Vansianus Masir)

