Oleh:
Andi Tarigan
Chief Editor PT Gramedia Pustaka Utama
Saya tak kenal Paus Fransiskus secara pribadi. Berbicara dengannya, apalagi bertatap muka, mungkin hanya mimpi di siang bolong.
Tetapi entahlah, mungkin terasa aneh, sebab saya merasa ada kedekatan yang sulit dijelaskan.
Pada Maret 2013, ketika Jorge Mario Bergoglio, SJ terpilih sebagai Paus—yang pertama dari Amerika Latin, dari Ordo Serikat Yesus—saya terdorong mencari buku-buku yang bisa memperkenalkan saya, dan mungkin juga pembaca berbahasa Indonesia, tentang sosok yang menolak tinggal di apartemen kepausan itu.
Buku pertama adalah Francis: Pope of a New World (Fransiskus: Paus dari Dunia Baru, Gramedia Pustaka Utama, 2014). Saya membayangkan akan membaca kisah pemimpin besar dengan gagasan-gagasan teologisnya.
Namun, yang saya temukan justru sebaliknya: kisah seorang imam yang sering mengunjungi kaum miskin di kawasan kumuh (villa miseria), memilih tinggal di apartemen kecil, memasak makanannya sendiri, dan menggunakan bus dan kereta bawah tanah untuk bepergian.
Dialah Kardinal Bergoglio dari Buenos Aires. Dialah Jesuit pertama yang menjadi Uskup Roma dan yang pertama dalam sejarah Gereja menggunakan nama Fransiskus, si Miskin dari Asisi.
Dialah Paus yang dengan rendah hati mengatakan, “Saya menginginkan Gereja yang miskin dan untuk orang miskin!”
Sosoknya terasa hangat dan dekat—bukan karena jabatannya, tetapi karena pribadinya yang membumi, hadir di tengah umat, dan berpihak pada yang kecil, miskin, dan terpinggirkan.
Dialah gembala yang meletakkan martabat manusia di atas aturan.
Dan sejak itulah saya sedikit paham mengapa banyak orang—bahkan di luar Gereja Katolik—melihatnya sebagai simbol moral bagi dunia yang tengah kehilangan arah: dia berbicara dari hati dan berjalan dengan teladan.
Buku kedua adalah Francis: Man of Prayer (Fransiskus: Manusia Pendoa, Gramedia Pustaka Utama, 2019). Buku ini lebih ringkas, tapi justru terasa lebih intim.
Buku ini memotret Fransiskus sebagai pribadi yang hidup dalam doa.
Doa baginya bukan kewajiban, tapi ruang hening, tempat berlindung dari tirani kemendesakan dan gemuruh dunia.
Doa baginya juga bukan cara menghindar dari kenyataan, tapi justru jalan untuk menyentuh realitas paling dalam— penderitaan, pengampunan, belas kasih.
“Doakanlah saya, saya memohon kepadamu, berdoalah bagi saya,” begitu katanya berulang kali.
Buku ketiga adalah Let Us Dream (Mari Bermimpi, Gramedia Pustaka Utama, 2021). Buku ini terbit saat dunia mengalami masa-masa gelap: pandemi.
Paus Fransiskus mengajak kita untuk berani bermimpi; berani menimbang kembali arah hidup, dan bersama-sama merancang cara hidup yang lebih manusiawi dan berbelas kasih.
Baginya, kita tak bisa terus berlindung di balik sistem politik dan ekonomi yang hanya memberi rasa aman semu.
Dia menyerukan perlunya membangun ekonomi yang adil. Dia mendorong hadirnya politik yang mau mendengar dan merangkul.
Dia mengajak kita menatap krisis sebagai momen penyingkapan: apa yang kita anggap bernilai, apa yang kita inginkan, apa yang kita cari.

