Oleh:
Krisvian Putradarma
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta
Dalam perkembangan zaman, pada usia ke-59 ini, kampus STPMD “APMD” Yogyakarta menghadapi tantangan besar: menjaga relevansi dan daya tariknya di tengah arus perubahan zaman.
Kampus ini dikenal dengan fokusnya pada pembangunan masyarakat desa, kini berada di persimpangan jalan, menghadapi penurunan jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya.
Apakah ini akibat kurangnya adaptasi dalam branding dan promosi?
Branding kampus tersembunyi
Branding menjadi magnet bagi masyarakat untuk mengetahui dan memutuskan berminat untuk kuliah di STPMD “APMD” Yogyakarta.
Branding dimaknai sebagai komunikasi yang dilakukan oleh sebuah instansi dalam proses membangun dan membesarkan merek, yang merupakan inti dari value instansi tersebut.
Branding bukan sekedar nama atau logo, tetapi identitas yang mencerminkan visi, nilai, dan keunggulan sebuah institusi.
Brand atau merek yang menjadi ciri khasnya masing-masing untuk meningkatkan eksistensi di antara kampus.
Maka, idealnya setiap instansi memiliki target capaian memperluas komunikasi yang bertujuan memperbesar sebuah nama dalam memenuhi target pasar sehingga merek tersebut menjadi terkenal.
Dalam konteks perguruan tinggi, branding adalah sarana penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus menarik perhatian calon mahasiswa.
Namun, realitasnya, STPMD “APMD” terlihat belum optimal dalam memanfaatkan potensi ini.
Berdasarkan penurunan minat mahasiswa baru, menandakan bahwa upaya branding kampus belum cukup atraktif dan cukup efektif.
Kurangnya promosi yang efektif dan minimnya aktivitas sosialisasi membuat kampus ini semakin kehilangan daya tarik di mata generasi muda.
Dalam dekade terakhir, STPMD “APMD” telah mereformasi branding dari “Calon Pemimpin Daerah” menjadi “Kampus Sarjana Rakyat”.
Perubahan tersebut belum menarik minat mahasiswa-mahasiswi baru, karena pengenalan self branding yang kurang optimal dan belum tersebar luas.
Gaya kuno
Di era digital, media sosial menjadi media, ruang, dan alat promosi serta propaganda merek yang ampuh.
Bukan berarti STPMD “APMD” belum mengikuti tren ini. STPMD “APMD” memiliki akun media sosial di berbagai platform, seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.
Sayangnya, akun media sosial resmi STPMD “APMD” tampaknya kurang kreatif dan kurang dimanfaatkan sebagai sarana branding modern.
Sejauh ini, civitas, pekerja, dan birokrasi kampus yang mengelola akun media sosial kampus tidak kreatif dan tidak inovatif.
Alih-alih menampilkan aktivitas mahasiswa yang dinamis dan inspiratif, fokus kontennya cenderung monoton, berpusat pada kegiatan dan rutinitas dosen atau rangkaian birokrasi kampus lainnya.
Media sosial kampus seolah hanya memperlihatkan validasi jabatan para civitas dan teknokrat kampus.
Sehingga banyak mahasiswa yang menganggap akun resmi kampus hanya diisi oleh kegiatan seremonial saja, pemasaran yang terkesan kuno.
Bila kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan berakibat fatal terhadap keberlangsungan kampus.
Penurunan jumlah mahasiswa baru bukan hanya persoalan angka, tetapi sinyal bahwa ada yang perlu dievaluasi secara mendalam.
Terlalu disayangkan bila pemasaran modern tidak difungsikan dan dikelola dengan optimal guna meningkatkan eksistensi, popularitas serta menarik perhatian publik untuk belajar di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.
Tidak seperti kampus-kampus lain yang sibuk pamer kegiatan mahasiswa-mahasiswi.
Di kalangan mahasiswa, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kreatifitas dan keaktifan para mahasiswa itu lebih menarik dan memancing atensi, menjadi daya pikat.
Hal tersebut menunjukkan mutu program akademik kampus bagi kehidupan masyarakat.
Sangat berkesan bila teori kampus bermanfaat dan dapat mengatasi suatu permasalahan yang ada di masyarakat.
Media sosial kampus harus dirancang menarik dan informatif, pembuatan slogan kampus yang memiliki makna berbeda serta mengedukasi, ajang pamer inovasi dan prestasi mahasiswa mereka secara masif, agar membangun daya tarik masyarakat luas.
Expo kampus nir mahasiswa
Kegiatan expo kampus idealnya tidak hanya dilakukan oleh pihak dosen atau tenaga pendidik, namun juga melibatkan mahasiswa-mahasiswi.
Mahasiswa adalah aset terbesar dalam menciptakan citra kampus yang menarik.
Melibatkan mereka dalam kegiatan seperti expo kampus, pembuatan konten kreatif di media sosial, hingga program pengabdian masyarakat yang dipublikasikan secara luas, dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat branding.
Expo kampus, tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi tetapi juga melatih soft skill komunikasi dan leadhership mahasiswa.
Melatih kemampuan komunikasi yang baik dalam penyampaian informasi, dan juga menjadi wahana kepemimpinan dengan bertanggungjawab atas misi expo yang telah diamanatkan.
Kesempatan expo dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk memperkenalkan kampus kepada masyarakat atau siswa-siswi lulusan sekolah menengah atas (SMA).
Seperti apa yang dilakukan oleh Universitas Bhayangkara Bekasi. Universitas tersebut memanfaatkan kegiatan expo kampus untuk menambah kuantitas mahasiswa baru.
Expo kampus juga dapat menjadi ajang kreasi mahasiswa, seperti membuat video pendek, dokumenter, atau sharing session.
Tidak hanya pada saat expo saja, hal tersebut bisa disebarkan melalui media sosial untuk memperluas menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus menonjolkan kekhasan kampus.
Aktivitas semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi STPMD “APMD” untuk lebih proaktif dalam menonjolkan keunggulan uniknya, terutama dalam bidang pembangunan masyarakat desa.
Masa depan yang lebih cerah
Perkembangan STPMD “APMD” Yogyakarta yang berjalan lambat di usia ke-59 tahun karena upaya promosi dan sosialisasi yang dilakukan kampus masih terbatas sehingga menyebabkan masyarakat belum mengenal dan enggan untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke kampus STPMD “APMD”.
Dalam hal mempromosikan kampus, STPMD “APMD” seolah belum mampu untuk memasuki masa transisi modern.
Sudah saatnya proses modernisasi dalam promosi kampus besar-besaran untuk menanggulangi berkurangnya jumlah mahasiswa-mahasiswi setiap tahunnya.
Kurangnya promosi kampus, dan juga kurangnya sosialisasi kampus untuk memperkenalkan program akademik ke tengah-tengah masyarakat menyebabkan penurunan kuantitas mahasiswa-mahasiswi setiap tahun.
Sejatinya, branding dan sosialisasi menjadi kunci eksistensi dan keharusan di era digital.
Selain sisi digital, keberadaan kampus yang informatif dan media sosial yang menarik, desain kampus yang modern dan ramah mahasiswa dapat memberikan kesan positif yang mendukung branding.
Bangunan kampus yang terlihat menarik dan tidak membosankan dilihat, tampilan modern, penyediaan fasilitas mahasiswa bisa menjadi cara daya pikat para calon mahasiswa-mahasiswi baru mendaftarkan diri di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.
Tidak dapat dimungkiri, generasi muda saat ini mendefinisikan kampus idaman dari tampilan yang menarik dan ketersediaan fasilitas, sebagai aspek penting dalam menunjang kreatifitas dan keaktifan di dalam kampus.
STPMD “APMD” harus bertransformasi menjadi kampus yang adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama dalam hal promosi dan branding.
Tanpa perubahan yang signifikan, risiko kehilangan daya saing di tengah persaingan ketat dunia pendidikan tinggi menjadi semakin nyata.
Namun, perubahan ini harus didukung oleh kesadaran dari pihak birokrasi kampus.
Kreativitas dan inovasi dari para tenaga pendidik dan staf administrasi dalam memanfaatkan teknologi digital adalah kunci untuk memenangkan persaingan dalam pasar pendidikan tinggi.
59 tahun bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari babak baru yang lebih penuh harapan.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan birokrasi kampus, serta pemanfaatan teknologi digital yang maksimal, kampus ini memiliki peluang besar untuk kembali bersinar dan menarik minat generasi muda yang ingin berkontribusi bagi pembangunan masyarakat desa.
Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan kuantitas mahasiswa, tetapi juga memperkuat eksistensi kampus di kancah nasional.
Sudah saatnya STPMD “APMD” berinovasi dan menjawab tantangan zaman dengan semangat perubahan di era digital.

