Oleh:
Vansianus Masir
Pemimpin Redaksi LPM TEROPONG
Aktifnya kembali Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) TEROPONG Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta bermula dari inisiatif sejumlah mahasiswa.
Prakarsa tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus kesadaran bahwa pers mahasiswa memiliki peran penting dalam kehidupan kampus.
Para penggerak kebangkitan TEROPONG datang dari latar yang beragam. Sebagian di antaranya telah lulus, sebagian masih aktif menjalani perkuliahan dan memilih tetap bertahan, sementara yang lain pada akhirnya memutuskan untuk keluar.
Saya sendiri tidak terlibat secara langsung dalam rencana menghidupkan kembali TEROPONG. Namun, takdir seakan membawa saya ke sini melalui sebuah kebetulan di media sosial.
Keberadaan TEROPONG baru saya ketahui ketika melihat pengumuman pendaftaran Workshop Jurnalistik yang diunggah melalui story akun Instagram organisasi ini.
Ketertarikan pada kegiatan tersebut mendorong saya untuk mendaftar, meskipun saat itu sudah memasuki hari terakhir pendaftaran.
Dengan sedikit kenekatan, saya tetap mengisi formulir pendaftaran sembari berharap kuota masih tersedia, mengingat jumlah peserta dibatasi hanya tiga puluh orang.
Keberuntungan pun berpihak. Tidak lama berselang, saya dinyatakan lolos sebagai peserta dan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp koordinasi.
Selanjutnya, kami mengikuti rangkaian kegiatan workshop yang berlangsung di Villa Putra Jaya, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta pada 8–10 Maret dengan penuh antusiasme.
Workshop tersebut mengusung tema “Pembekalan Mahasiswa Cerdas Mengungkap Realitas”. Frasa “Cerdas Mengungkap Realitas” merupakan tagline TEROPONG yang mencerminkan semangat serta orientasi gerak pers mahasiswa ini.
Selama kegiatan, peserta dibekali berbagai materi, mulai dari sejarah pers mahasiswa beserta peran dan fungsinya, kode etik jurnalistik, teknik dasar penulisan jurnalistik, teknik wawancara, hingga materi-materi lain yang menunjang kerja jurnalistik.
Para narasumber yang dihadirkan merupakan jurnalis dari media-media besar, baik di tingkat lokal maupun nasional, yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidangnya.
Di antaranya Mba Bhekti Suryani (Harian Jogja) yang juga alumni TEROPONG, Mas Bambang Muryanto (AJI Yogyakarta), Mas Desi Suryanto (Harian Jogja), serta Mas Hendra Setiawan (CNN Indonesia).
Hadir pula alumni TEROPONG lainnya, yakni Abang Erik Triadi, Abang Danny Simanjuntak, Abang Ajian Kamadeva, serta Ibu Ria Anisa yang saat ini menjadi dosen di APMD sekaligus pembina TEROPONG.
Kesempatan bertemu langsung dengan para pemateri dan alumni tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memperkaya proses belajar.
Pada hari ketiga workshop, kami melakukan praktik wawancara secara berpasangan. Satu orang berperan sebagai narasumber, sementara yang lain bertindak sebagai pewawancara. Topik wawancara ditentukan secara bebas berdasarkan kesepakatan masing-masing pasangan.
Hasil wawancara tersebut kemudian dituliskan dalam bentuk artikel berita. Seluruh artikel yang dihasilkan peserta dikumpulkan untuk dilakukan penilaian.
Berdasarkan penilaian Mba Bhekti Suryani selaku fasilitator praktik wawancara dan penulisan, saya kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Keputusan tersebut disepakati oleh seluruh peserta.
Sebelum mengikuti workshop ini, saya telah memiliki pengalaman menulis. Saat SMA, dua tulisan pernah dimuat di media daring, masing-masing di Floresmuda.com dan Ngkiong.com.
Selanjutnya, ketika memasuki semester dua perkuliahan, saya terlibat sebagai salah satu kontributor dalam buku antologi “Bertutur Desa” yang diselenggarakan oleh Bidang Keilmuan KOMAP STPMD “APMD” periode 2022/2023.
Selain itu, beberapa tulisan juga sempat dimuat di Kompasiana.com, Thecolumnist.id, Goodnewsfromindonesia.id, dan belakangan cukup rutin menulis di Floresa.co.
Berbekal pengalaman tersebut, meskipun masih sangat terbatas, kepercayaan sebagai Pemred TEROPONG saya terima tanpa ‘tedeng aling-aling.’
Namun, pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi pijakan untuk terus belajar dan berkarya. Kepercayaan yang diberikan menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar untuk terus meningkatkan kualitas diri dan kualitas tulisan.
Pada malam terakhir workshop, kami juga mengadakan pertemuan daring melalui Zoom bersama para alumni yang tidak dapat hadir secara langsung karena berdomisili di luar Yogyakarta.
Dalam pertemuan tersebut, para alumni membagikan pengalaman mereka selama aktif di TEROPONG serta dampak yang dirasakan dalam kehidupan mereka saat ini.
Harapan dan masukan juga disampaikan agar TEROPONG tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khas dan kualitasnya.
Melalui lokakarya ini, para peserta diharapkan memiliki kompetensi dan kapasitas dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik serta menyadari peran penting pers mahasiswa.
Dinamika Pasca Lokakarya
Niat dan inisiatif untuk menghidupkan kembali TEROPONG mendapat dukungan yang baik dari pihak kampus dan para alumni TEROPONG. Dukungan tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyediaan website sebagai media publikasi.
Dengan adanya website, anggota TEROPONG memiliki ruang untuk mempublikasikan karya jurnalistik dengan memanfaatkan teknologi digital. Langkah ini merupakan upaya adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pasca workshop, kami pun mulai berupaya mengisi rubrik-rubrik yang tersedia di website. Namun, dari 30 peserta workshop, tidak semuanya menulis dan bertahan. Terjadi semacam seleksi alam: ada yang bertahan, ada pula yang memilih hengkang, masing-masing dengan alasan tersendiri.
Pada akhirnya, hanya empat orang yang bertahan, yakni Rifal Umbu, Dartono Bokamanu, Salfan Huki, dan saya sendiri. Dartono dan Salfan merupakan mahasiswa angkatan 2021, sedangkan saya dan Rifal berasal dari angkatan 2022.
Terima kasih kepada Ibu Ria, Mas Santo, dan Mba Bhekti yang telah membantu dan membimbing kami ber-empat dalam proses penulisan, penyuntingan, hingga publikasi, sampai akhirnya website TEROPONG resmi diluncurkan pada 26 September 2024.
Lalu, pada kegiatan Sosialisasi Internal Kampus (SIKam) bagi mahasiswa baru angkatan 2024, kami membuka stan untuk melakukan sosialisasi sekaligus membuka pendaftaran bagi mahasiswa baru yang berminat bergabung dengan TEROPONG.
Sekitar dua puluh mahasiswa baru mendaftar. Akan tetapi, karena kelalaian internal, lembar pendaftaran yang telah terisi tersebut hilang dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Setelah berbagai upaya pencarian tidak membuahkan hasil, kehilangan tersebut akhirnya kami ikhlaskan.Meskipun hanya berempat, kami tetap berupaya mengagendakan kegiatan dan sesekali menulis untuk keperluan publikasi.
Namun, ketika perkuliahan kembali aktif dan tuntutan akademik serta kesibukan organisasi lain semakin padat, kondisi menjadi cukup kewalahan. Bekerja hanya dengan empat orang tentu bukan perkara mudah.
Akibatnya, kegiatan diskusi dan produksi tulisan menjadi sangat minim. Kekhawatiran pun muncul bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, minat mahasiswa untuk bergabung akan menurun, bahkan berpotensi membuat TEROPONG kembali vakum.
Maka, pada Oktober 2024, kami kembali mengagendakan open recruitment bagi mahasiswa yang ingin bergabung. Informasi pendaftaran disebarkan melalui akun Instagram TEROPONG, status media sosial pribadi, serta beberapa grup WhatsApp. Dari proses rekrutmen tersebut, tiga mahasiswa angkatan 2024 mendaftar.
Idealnya, sebagaimana tercantum dalam poster pendaftaran, calon anggota yang mendaftar harus melalui tahapan seleksi berupa pengiriman karya tulis dan wawancara.
Namun, dengan mempertimbangkan situasi dan pengakuan para pendaftar yang masih mengalami kesulitan dalam menulis, kami memilih pendekatan yang lebih realistis. TEROPONG diposisikan sebagai wadah belajar, bukan ruang eksklusif.
Setelah melalui pertimbangan bersama, ketiganya diterima tanpa syarat teknis. Modal utama yang ditekankan adalah niat, kemauan, tekad, dan semangat untuk belajar serta mengasah keterampilan diri.
Karena itu, kehadiran anggota baru dipandang sebagai ruang untuk saling melengkapi dan bertumbuh bersama, apalagi dengan suatu kesadaran juga bahwa anggota yang lebih dulu bergabung pun masih terus belajar dan menempa diri.
Beberapa waktu kemudian, kami kembali membuka pendaftaran. Namun, kali ini tidak ada pendaftar baru. Penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Bisa jadi karena kegiatan yang belum cukup menarik, promosi yang kurang masif, atau kemungkinan rendahnya budaya literasi di kampus.
Saya dan Rifal akhirnya mengajak teman-teman seangkatan untuk bergabung, yakni David Kurniawan, Bayu Kurniawan, Elsa Fernandes, Adelia Lerebulan, Timo Nggara, dan Vivi C. Devi. Ajakan tersebut disambut baik dan mereka bersedia bergabung.
Rapat kemudian dilaksanakan untuk membentuk kepengurusan. Melalui musyawarah, disepakati susunan kepengurusan sebagai berikut: Rifal sebagai Pemimpin Umum, Adelia sebagai Sekretaris Umum, Elsa sebagai Bendahara Umum, David sebagai Redaktur, Vivi dan Timo sebagai Tim Media, serta saya tetap dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi.
Pada November 2024, kami mulai membahas kebijakan redaksional serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kebijakan redaksional berperan penting dalam menentukan arah, fokus, standar, dan kualitas konten sebuah media. Dengan berpegang pada kebijakan tersebut, reputasi media dapat dibangun dan kepercayaan publik diperoleh.
Sementara itu, AD/ART diperlukan sebagai aturan main organisasi agar setiap anggota memahami tugas, peran, hak, dan kewajibannya. Aturan tersebut disusun dan disepakati bersama sebagai keputusan politik kolektif guna menghadirkan rasa keadilan tanpa mengucilkan pihak mana pun.
Namun, perlu disadari bahwa aturan dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk aturan. Karena itu, aturan tidak boleh membelenggu dan membatasi kebebasan.
Sebaliknya, aturan seharusnya memerdekakan manusia dengan tetap memberi ruang bagi setiap individu untuk mengekspresikan diri secara bertanggung jawab.
Ketika kebebasan berpotensi kebablasan, organisasi tetap memerlukan aturan yang tegas sebagai pedoman bersama, termasuk dalam menentukan sikap dan sanksi.
Tujuannya agar setiap anggota memahami batas, terhindar dari sikap sewenang-wenang, tidak menjadi parasit atau free rider, serta tidak membawa perilaku yang merusak tubuh organisasi. Jika tidak ditangani, perilaku semacam itu dapat menular dan menghambat perkembangan organisasi.
Setelah kebijakan redaksional dan AD/ART disepakati, berbagai kegiatan mulai dilaksanakan secara lebih aktif. Di antaranya lomba menulis esai dalam rangka Dies Natalis ke-59 APMD, diskusi, serta kolaborasi dengan Komunitas Niang Gejur dalam pameran dan pentas seni.
Pada periode ini pula, kiriman tulisan dari dosen dan mahasiswa mulai berdatangan, termasuk dari luar kampus. Harapan yang sebelumnya dibayangkan perlahan mulai terwujud.
Hal ini menjadi tambahan energi bagi kami untuk merawat TEROPONG agar tetap memberi manfaat dan menyediakan ruang bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum dalam menyampaikan informasi, pengetahuan, serta gagasan.
Mengingat beberapa anggota senior akan segera menyelesaikan perkuliahan, regenerasi mulai dipikirkan secara serius. Karena itu, mahasiswa angkatan 2023 dan 2024 diajak secara personal, baik melalui pesan singkat maupun pertemuan langsung, untuk bergabung dengan TEROPONG.
Langkah ini dilakukan demi keberlanjutan TEROPONG ketika kami telah selesai dari kampus. Dari ajakan tersebut, sebagian belum bersedia, namun lebih banyak pula yang akhirnya bergabung.
Selanjutnya, pada awal Februari 2025, Adelia dan Vivi mengundurkan diri dari kepengurusan dengan berbagai pertimbangan yang rasional dan dapat diterima.
Kesulitan membagi waktu menjadi alasan utama, mengingat keduanya memiliki tanggung jawab lain di luar perkuliahan. Akibatnya, posisi Sekretaris Umum mengalami kekosongan dan divisi media hanya tersisa satu orang.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, kami mengadakan rapat bersama anggota baru untuk melakukan restrukturisasi kepengurusan. Berdasarkan kesepakatan forum, Timo ditetapkan sebagai Sekretaris Umum, sementara Bayu mengisi posisi di divisi media.
Selain itu, Ramadhanty Papuani ditetapkan sebagai Sekretaris Redaksi, Laurensius Ndunggoma dan Amandus Ningdama mengisi bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang), sementara anggota lainnya berperan sebagai reporter TEROPONG. Struktur kepengurusan lainnya tidak mengalami perubahan.
Kemudian, posisi Bendahara Umum juga mengalami kekosongan setelah Elsa mengundurkan diri untuk fokus menyelesaikan perkuliahan dan belum ada pengganti hingga tulisan ini dipublikasikan. Secara keseluruhan, itulah dinamika TEROPONG hingga saat ini.
Jumlah anggota kini mencapai 25 orang, dengan komposisi: 2 orang angkatan 2021, 6 orang angkatan 2022, 3 orang angkatan 2023, dan 14 orang angkatan 2024.
Ke depan, kami memfokuskan diri pada peningkatan kualitas individu melalui pelatihan, penggemblengan, serta pembiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi agar mampu menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas.
Beberapa Alasan
Sejak mengikuti workshop hingga saat ini, kurang lebih sudah satu tahun saya berdinamika di TEROPONG. Dari proses tersebut, ada beberapa alasan yang membuat pilihan untuk tetap bertahan terus diambil.
Pertama, saya memaknai bertahan di TEROPONG sebagai sarana belajar bertanggung jawab atas amanah yang telah diberikan. Amanah tersebut menuntut kesungguhan, totalitas, dan kesediaan untuk berproses.
Latihan tanggung jawab sejak dini memberi pengaruh besar bagi pembentukan karakter di masa depan, sekaligus membangun reputasi sebagai pribadi yang dapat dipercaya.
Saya meyakini bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal; ketika kepercayaan hilang, berbagai kesempatan dalam kehidupan sosial, akademik, maupun profesional akan sulit diperoleh.
Kedua, saya menyadari bahwa aktivitas di TEROPONG tidak menjanjikan keuntungan materi karena tidak disertai upah atau gaji. Namun, apabila segala sesuatu semata-mata diorientasikan pada pencarian akan uang, kehidupan berisiko kehilangan nilai dan maknanya.
Keterlibatan ini saya pahami sebagai upaya mengambil bagian dalam kerja-kerja semesta, meninggalkan jejak yang bermakna, dan memberi dampak bagi sesama melalui kerja jurnalistik.
Karena itu, saya berusaha menjaga niat agar tidak terjebak pada pencarian uang maupun popularitas semata. Sebaliknya, melalui proses yang dijalani secara serius dan tekun di TEROPONG, saya belajar membangun cara berpikir kritis, kedisiplinan, keberanian bersikap, serta keberpihakan kepada mereka yang lemah dan tertindas.
Ketiga, saya teringat pada ungkapan Tan Malaka bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Keterlibatan dalam pers mahasiswa saya anggap sebagai salah satu cara merawat kemewahan tersebut.
Idealisme diperlukan untuk menjaga marwah jurnalisme: menjadi suara bagi mereka yang dibungkam, ditindas, dan dibuat tidak berdaya oleh sistem yang eksploitatif dan kapitalistik, demi terwujudnya kehidupan bersama yang lebih adil, sejahtera, dan demokratis.
Dalam konteks ini, saya melihat pers mahasiswa sebagai media alternatif yang penting. Karya jurnalistik seharusnya menyingkap fakta yang tersembunyi sebagai bagian dari upaya mencari kebenaran dan memperjuangkan keadilan, bukan justru tunduk pada logika pasar yang semata mengejar keuntungan finansial.
Saya memang menyadari bahwa TEROPONG sejauh ini belum sepenuhnya menjalankan fungsi pers yang ideal, tetapi upaya terus dilakukan agar media ini mampu menggugat kemapanan dan membuat kekuasaan tidak merasa nyaman dalam status quo.
Keempat, melalui TEROPONG, saya mengalami keterhubungan dengan berbagai peristiwa dan perjumpaan dengan banyak orang. Proses tersebut memperkaya pengalaman, pengetahuan, serta cara pandang terhadap kehidupan sosial.
Dengan menuliskan peristiwa dan pengalaman perjumpaan itu, saya berupaya membagikan informasi kepada mereka yang memiliki keterbatasan akses, agar pembaca dapat memperoleh pengetahuan, memetik makna, dan menemukan inspirasi.
Karena itu, saya berusaha agar produk jurnalistik yang dihasilkan memberikan pencerahan, bukan menyesatkan; menambah pengetahuan, bukan kebodohan; serta terbebas dari hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.
Kelima, saya merujuk pada pemikiran Albert Camus tentang absurditas hidup manusia. Menurutnya, hidup pada dasarnya tidak memiliki makna yang melekat di dalam dirinya.
Hidup ini absurd, penuh teka-teki, dan sarat ketidakpastian. Manusialah yang memiliki kebebasan untuk menentukan makna atas hidupnya sendiri.
Karena itu, manusia tidak seharusnya tunduk, putus asa dan menyerah pada absurditas tersebut, melainkan dituntut untuk berani memberontak dan melawan. Dalam keberanian itulah kebebasan sejati ditemukan, yang membuat hidup menjadi lebih bernilai dan otentik.
Kesadaran ini mendorong saya untuk menerima realitas dan menghadapinya secara jujur, bukan hidup dalam ilusi, kepura-puraan, atau harapan palsu.
Karena itu, memilih bertahan di TEROPONG saya pahami sebagai salah satu bentuk perlawanan agar tidak tunduk pada absurditas hidup. Dengan bertahan, saya terus mengupayakan nilai dan makna bagi keberadaan diri, sehingga jika suatu hari harus mati muda, setidaknya tidak mati dengan sia-sia.

