Site icon Halo Teropong | Cerdas Mengungkap Realitas

Manfaatkan Limbah Bangunan, Mahasiswa UNY Ciptakan Batako Ramah Lingkungan Berbasis Konstruksi Sirkular

Tumpukan puing beton dan pecahan dinding yang menjadi bahan baku pembuatan batako berbasis konstruksi sirkular dalam penelitian skripsi Risang Sakha Purwandhanto (Foto: Dokumentasi Risang Sakha Purwandhanto)

TEROPONG—Meningkatnya aktivitas pembangunan di sektor konstruksi memicu tingginya kebutuhan akan material alam, seperti pasir.

Di sisi lain, volume limbah pembongkaran bangunan dan sisa proyek yang tinggi masih belum dikelola dengan baik sehingga berpotensi merusak lingkungan.

Guna mencegah dampak tersebut, Risang Sakha Purwandhanto menawarkan pembangunan berbasis konstruksi sirkular (circular construction) sebagai solusi untuk mewujudkan pembangunan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Berbeda dengan pola pembangunan konvensional yang menerapkan sistem ambil–buat–buang (take–make–dispose), konstruksi sirkular mengadopsi prinsip ekonomi sirkular (circular economy).

Prinsip ini berfokus untuk menjaga agar material, produk, dan sumber daya tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin.

Strateginya dilakukan dengan mendaur ulang material bangunan dan memanfaatkannya kembali sebagai bahan baku konstruksi.

Tujuannya tidak hanya mengurangi volume limbah konstruksi di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menekan eksploitasi sumber daya alam.

Melalui pendekatan ini, Risang melakukan penelitian skripsi untuk menyelesaikan studi S1-nya yang bertajuk “Rekayasa Limbah Konstruksi untuk Pembuatan Material Batako dengan Konsep Circular Construction“.

Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknik Sipil Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut berhasil mengembangkan pemanfaatan puing beton dan pecahan dinding sebagai bahan baku alternatif pengganti pasir pada campuran batako.

Risang menyampaikan bahwa material limbah tersebut diperoleh dari proyek pembangunan di Yogyakarta.

Sebelum digunakan, limbah dibersihkan, dihancurkan, kemudian diayak hingga lolos saringan berukuran 4,75 mm agar karakteristiknya sesuai.

Setelah itu, material menjalani proses perawatan (curing) selama 28 hari. Selanjutnya, limbah diuji di laboratorium menggunakan sembilan variasi campuran, yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 50%, 75%, hingga 100% sesuai ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Batako yang dihasilkan memiliki nilai kuat tekan optimal mencapai 77,4 kg/cm² (Foto: Dokumentasi Risang Sakha Purwandhanto)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa batako yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu.

Variasi paling optimum ditemukan pada variasi ke-8 (kandungan limbah 75%) dengan nilai kuat tekan sebesar 70 kg/cm².

Sementara itu, nilai kuat tekan tertinggi dicapai oleh variasi ke-7 (kandungan limbah 50%) yaitu sebesar 77,4 kg/cm².

Adapun daya serap air batako berkisar antara 1,61–10,79%, jauh di bawah batas maksimum SNI sebesar 25%.

Menariknya, semakin tinggi persentase penggunaan limbah konstruksi, berat batako justru cenderung semakin ringan.

Kondisi ini berpotensi mengurangi beban mati bangunan tanpa menurunkan kualitas material.

“Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan sektor konstruksi melalui pemanfaatan limbah sebagai material bangunan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Risang.

Bagi pemerintah, ia berharap penelitian ini dapat menjadi referensi dalam mendorong pengembangan material dan konsep bangunan hijau di Indonesia.

Langkah ini penting untuk mewujudkan industri konstruksi yang berkelanjutan sekaligus mendukung tercapainya visi Ekonomi Sirkular Indonesia 2045, katanya.

Exit mobile version