Site icon Halo Teropong | Cerdas Mengungkap Realitas

Fragmen Elegi Perempuan Tampilkan Kritik Soal Kekerasan

Komunitas Niang Gejur menampilkan fragmen berjudul "Elegi Perempuan" dalam kegiatan Festival Budaya (Festaya) yang diselenggarakan Komunitas Mahasiswa NTT Atma Jaya (Komantta) di Lapangan Panahan Kenari Yogyakarta pada Minggu (2/6/2024). (TEROPONG/Dartono Bokamanu)

TEROPONG—Kekerasan terhadap perempuan menjadi isu yang paling disoroti Komunitas Niang Gejur dalam fragmen berjudul ‘Elegi Perempuan.’ Fragmen tersebut ditampilkan dalam kegiatan Festival Budaya (Festaya) dengan tema “Budaya Nusa Tenggara Timur” yang diselenggarakan Komunitas Mahasiswa NTT Atma Jaya (Komantta) yang berlangsung di Lapangan Panahan Kenari Yogyakarta pada Minggu (2/6/2024).

Fragmen tersebut mengisahkan tentang situasi dan kondisi ketertindasan yang dialami perempuan dalam konstruksi sosial. Budaya patriarki menempatkan perempuan tidak memiliki kebebasan dalam memilih selain mengurus urusan rumah tangga (domestik). Ego dan kerakusan laki-laki mendominasi dan membatasi ruang gerak perempuan

‘Elegi Perempuan’ bercerita tentang seorang perempuan yang terus diinjak, dicaci maki dan dilucuti harga dirinya oleh laki-laki. Namun di sisi lain, terdapat seorang perempuan yang ‘menormalisasi’ keadaan demikian dan beranggapan bahwa ‘perempuan sudah sewajarnya melayani keinginanan seorang laki-laki dan harus tunduk pada seorang laki-laki yang nantinya akan menjadi seorang suami’.

Tokoh lain yang dikisahkan dalam fragmen ini yaitu seorang ibu yang memasrahkan segenap keadaan di dunia kepada Yang Maha Kuasa. Baginya manusia hanya perlu berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk kepada-Nya atas berbagai persoalan di bumi. Tokoh perempuan tua ini diperankan Feni Dafrosa.

Maria Florida Namus, pemeran ‘perempuan tertindas’ mengatakan penindasan terhadap perempuan harus dilawan dan menuntut keadilan serta perlakuan yang setara. Baginya ‘masalah perempuan tidak bisa diselesaikan oleh siapa pun selain dari pada kesadaran seseorang perempuan itu sendiri.’

Sementara itu Marsiana Fidilu Fidi yang melakonkan peran sebagai perempuan yang menormalisasi penindasan terhadap perempuan, mengatakan bahwa sengaja ditampilkan tokoh semacam dirinya karena banyak orang yang apatis atau tidak mau peduli terhadap persoalan yang dialami perempuan.

Penulis naskah sekaligus sutradara fragmen Elegi Perempuan, Revi Nadur dan Johan Arkang mengatakan dibuatnya fragmen semacam ini adalah bentuk penyadaran kepada pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia terhadap kondisi perempuan. Mereka berharap kasus kekerasan terhadap perempuan tidak lagi terjadi.

Komunitas Niang Gejur sendiri merupakan sebuah komunitas seni yang ada di Yogyakarta. Nama Niang Gejur secara filosofis diambil dari kata bahasa Manggarai “Niang” yang berarti rumah dan “Gejur” yang artinya kreatif. Dengan demikian Niang Gejur diharapkan bisa menjadi ruang kreatif bersama untuk mengembangkan potensi dan kreatifitas terutama dalam bidang seni. (Dartono Bokamanu)

Exit mobile version