TEROPONG— “Meski berada di wilayah terpencil, semoga kami tetap mendapat perhatian yang sama dengan sekolah-sekolah di perkotaan,” ujar Achmad Labib saat diwawancarai pada 28 September. Ia merupakan Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Parang.
Lembaga pendidikan dengan hanya 7 guru kelas, seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT), dan 69 murid itu terletak di Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.
Letak sekolah yang secara geografis jauh dari pusat pemerintahan, ‘membuat kami selalu ketinggalan informasi,’ ujar Achmad.
Selain kekurangan tenaga pendidik, penyelenggaraan pendidikan serta kegiatan belajar mengajar di sana mengalami banyak tantangan dan keterbatasan akibat fasilitas, sarana dan prasarana yang tidak memadai.
Bahkan, sekolah tersebut tidak memiliki perpustakaan dan terpaksa menggunakan perpustakaan desa yang berada satu kantor dengan Pos Kesehatan Desa (PKD).
Merawat Semangat di tengah Keterbatasan
Meski demikian, SDN 3 Parang tetap mengupayakan peningkatan kualitas pengembangan pengetahuan dan kompetensi guru melalui berbagai macam kegiatan pelatihan, menjalin kerja sama dengan kampus atau instansi lain serta mendorong pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM) atau aplikasi Ruang Guru, ungkap Achmad.
Ia menambahkan, berbeda dari sebelumnya di mana banyak yang pasif dan acuh tak acuh, beberapa bulan terakhir ‘orang tua/wali turut serta mendukung perkembangan pendidikan siswa dengan mendampingi saat mereka belajar serta memberikan les tambahan.’
Selain itu, ungkap dia, melalui aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pihak sekolah rutin setiap tahun mengusulkan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP), khususnya bagi anak nelayan, serta mengajukan pembangunan atau rehabilitasi sarana dan prasarana dalam rangka perbaikan fasilitas.
Tahun lalu, instansi yang dipimpinnya itu mendapat bantuan pembangunan kantor, laboratorium, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), rehab ruang kelas serta rehab rumah dinas.
Sementara untuk tahun ini, pengajuan dilakukan untuk pengadaan peralatan multimedia dan teknologi informasi, rehabilitasi perpustakaan, dan pembangunan pagar sekolah.
Achmad menyampaikan perasaan bangga melihat adab dan akhlak peserta didiknya yang masih terjaga dengan baik. Kepada mereka ia berpesan ‘tetap semangat belajar dan menggapai pendidikan setinggi-tingginya meski di tengah keterbatasan.’
Laporan ini ditulis Riska Marga Retha, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta.

