TEROPONG—Yuli Setyowati, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta, mengatakan, ulang tahun adalah momentum yang tidak hanya dipahami sebagai semakin bertambahnya angka pada usia.
Ulang tahun, kata dia, adalah saat untuk melakukan refleksi atas hari-hari yang sudah dilalui, dengan berbagai pengalaman entah kegagalan maupun kesuksesan, suka dan duka, serta mensyukuri nikmat yang masih dialami hingga saat ini.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara ulang tahun ke-36 Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (IMaKo) STPMD ‘APMD’ di aula kampus pada Minggu, (03/11) dengan tema ‘Unity & Diversity’.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan perwakilan organisasi internal dan eksternal kampus dan beberapa alumni.
Dengan melakukan refleksi, ungkap dia, kita bisa belajar dari pengalaman, menyadari kelebihan dan kekurangan dalam diri ataupun organisasi, sehingga seiring berjalannya waktu, kita semakin bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Yuli juga menekankan, IMaKo adalah mitra, rekan kerja dari prodi. “IMaKo tidak mungkin ada jika di kampus ini, tidak ada Prodi Ilmu Komunikasi.
Karena itu, penting bagi IMaKo untuk melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Prodi, supaya kegiatan yang dibuat dapat mendukung perkembangan dan kemajuan Prodi.
Sebaliknya, Prodi tentu saja siap memfasilitasi dan mendukung kegiatan IMaKo,” katanya.
Ia mengajak IMaKo tetap produktif menjalankan kerja-kerja organisasi yang mendukung aktivitas ‘Berpikir, Bernalar dan Berkarya’.
“Berpikir, Bernalar, Berkarya yang menjadi spirit IMaKo tidak hanya jargon belaka, tetapi harus dipraktikkan,” katanya.
Lebih lanjut, ia memberi pesan kepada pengurus IMaKo dan seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk tetap semangat, menjalin banyak relasi, berjuang meraih prestasi dan melakukan karya.
“Meskipun kita kuliah di kampus kecil, tidak terkenal, tapi semangat dan pikiran kita harus besar,” ungkapnya.
Fransiskus Ryka Suji Ardianto, Ketua IMaKo Periode 2024/2025 mengatakan, perjalanan organisasi selanjutnya membutuhkan kerja sama, solidaritas dan sinergitas untuk membawa IMaKo menjadi lebih baik.
Ardi, sapaan akrabnya, menambahkan, dengan kerja sama dan kekuatan tim, IMaKo menjadi lebih mungkin untuk mewujudkan spirit organisasi yaitu ‘Berpikir, Bernalar, Berkarya (3B)’.
Sementara itu, Radittiono Suayang selaku Ketua Panitia, menerangkan makna di balik tema kegiatan yang digunakan, yaitu hendak mengajak seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk memperkuat persatuan, persaudaraan dan saling menghargai meski ‘kita semua berasal dari latar belakang suku, agama dan daerah yang berbeda-beda,’ kata dia.
Senada dengan yang disampaikan Radittiono, Patrick Valdano Sarwom, Demisioner Ketua IMaKo Periode 2023/2024 dalam sambutannya mengatakan, bukan karena hanya demi persatuan maka kita merelakan perbedaan, melainkan karena perbedaanlah maka kita punya kemauan serta kerinduan untuk bersatu.
Perbedaan, kata dia, adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari.
Setiap manusia berbeda, entah suku, agama, status sosial, cara berpikir dan sebagainya.
Karena itu, perbedaan-perbedaan itu harus diakui dan dihormati keberadaannya.
“Jangan sampai, kita takut menjadi berbeda dan bersikap anti terhadap perbedaan hanya karena terlalu terobsesi pada persatuan. Kita mesti terbuka dan menerima setiap perbedaan yang ada,” katanya.
Patrick juga menyebutkan, setiap kepemimpinan memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri. Memiliki cara masing-masing dalam melanjutkan kerja organisasi.
Meski begitu, ia mengatakan untuk terus selalu belajar.
“Tradisi baik yang diwariskan sebelumnya dipelihara, bahkan ditingkatkan, sementara yang kurang baik dan tidak memuaskan perlu dibenahi. Sebab tidak ada kepemimpinan yang sempurna, tanpa cacat dan cela,” pungkasnya.
Soleman Nunu Baru, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Tunas Patria Periode 2024/2025 memberi apresiasi kepada IMaKo yang telah berjalan dan bertahan selama 36 tahun.
Ia juga berharap IMaKo tetap solid dan terus bekerja sama seperti yang disaksikannya selama ini.
“Jangan ada yang menjadi penumpang gelap dan hanya ‘titip nama’ dalam organisasi, tapi tidak kerja. Semuanya harus kerja dan berkontribusi,” tegasnya.

