TEROPONG–Gelombang mahasiswa baru dari berbagai penjuru negeri resmi memulai petualangan akademik mereka di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta pada 21 September 2026.
Sebelum memulai perkuliahan, mereka telah mengikuti kegiatan Sosialisasi Internal Kampus (SIKam) sebagai sarana untuk membantu proses adaptasi kehidupan kampus pada 17-19 September.
Menariknya, para mahasiswa baru ini membawa beragam motivasi dan alasan personal di balik keputusan mereka memilih kampus dengan slogan “Sarjana Rakyat” tersebut.
Bagi Soni Magi, keputusannya berlabuh di kampus yang berlokasi di Jalan Timoho Nomor 317, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman ini didasari oleh rekam jejak historis STPMD “APMD”.
Kampus ini dianggap konsisten dalam upaya melahirkan lulusan yang punya komitmen untuk mengabdi serta punya keberpihakan pada masyarakat pinggiran, lokal, dan pedesaan.
Senada dengan Soni, Sella May Noor Athika juga mengaku terpikat karena kampus ini fokus pada bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Relevansi program studi (prodi) dengan kebutuhan riil di daerah asal serta pengembangan potensi diri memang menjadi pertimbangan utama bagi para mahasiswa baru.
Sella, misalnya, memantapkan pilihan pada Prodi Ilmu Pemerintahan dengan misi khusus.
Ia ingin belajar lebih dalam mengenai tata kelola pemerintahan desa yang baik agar kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di prodi yang sama, Doki Ningdana memiliki keresahan terkait fenomena politik dinasti di daerah asalnya yaitu di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
“Politik dinasti adalah bentuk praktik penyimpangan dari hakikat ilmu pemerintahan yang murni dan sejati. Saya belajar di sini untuk merespons dinamika yang terjadi tersebut,” tegas Doki.
Sementara itu, pilihan berbeda diambil oleh Vicentsya Hellena Suroso yang masuk ke Prodi Ilmu Komunikasi.
Didorong oleh minat yang kuat pada bidang public speaking dan sosialisasi, Hellena menargetkan diri untuk menjadi sarjana rakyat yang mampu membawa pengaruh positif melalui komunikasi yang efektif.
Selain aspek kurikulum akademik, atmosfer non-akademik di kampus yang tahun ini sudah menginjak usia ke-61 juga menjadi daya tarik tersendiri.
Doki berpendapat bahwa iklim organisasi yang hidup serta keragaman budaya di STPMD “APMD” menjadi laboratorium sosial yang tepat untuk memperluas wawasan, membentuk sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan satu sama lain.
“Dengan aktif kuliah dan mengikuti kegiatan organisasi, ini akan menjadi bekal dan pengalaman berharga bagi saya sebelum nantinya kembali berada di tengah dan bersama masyarakat,” pungkas Doki.

